Berkah dan Bencana Kenaikan Harga Komoditas

0
41

Saat ini, harga-harga komoditas utama dunia, seperti komoditas tambang (termasuk energi) dan pangan di pasar global terus merangkak naik. Kenaikan harga ini terutama didorong oleh kenaikan permintaan sebagai konsekuensi dari pemulihan ekonomi global. Di sisi lain, produksi dan distribusi komoditas terganggu oleh dampak perubahan iklim ekstrim.

Berdasarkan data, komoditas pangan rata-rata meningkat hingga 50 persen, sedangkan komoditas tambang rata-rata meningkat hingga 20 persen. Menurut FAO food Prices Index yang dihitung dari rata-rata tertimbang 55 jenis komoditas perdagangan internasional selama 2010 menunjukkan tren peningkatan. Pada Desember 2010 FAO Index meningkat 24,59% dibandingkan indeks pada tahun sebelumnya.

Kenaikan harga komoditas internasional ini diperkirakan akan berlanjut di tahun ini, sejalan dengan pelemahan mata uang Amerika Serikat akibat kebijakan quantitative easing. Namun, terdapat juga peluang bahwa kenaikan harga-harga komoditas ini tetap akan bergerak normal seiring dengan sejumlah langkah yang dipersiapkan sejumlah negara untuk meredamnya.

Bagi Indonesia, kenaikan harga-harga komoditas ini sesungguhnya ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, sebagai negara pengekspor komoditas, kenaikan harga komoditas ini memberikan dampak positif bagi kita, terutama ekspor. Data menunjukkan, nilai ekspor Indonesia Januari-November 2010 mencapai US$140,65 miliar atau meningkat 36,34 persen dibanding periode yang sama tahun 2009. Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai US$115,94 miliar atau meningkat 33,81 persen. Secara umum, komoditi ekspor non migas yang mengalami peningkatan antara lain batubara, CPO, dan biji logam.

Namun, kenaikan harga-harga komoditas juga memberikan pengaruh negatif bagi Indonesia, terutama inflasi. Hanya saja, kita perlu cermat dalam melihat pengaruh kenaikan harga komoditas internasional terhadap inflasi kita. Sebab, jika kita keliru dalam melihat faktor penyebab inflasi kita, hal itu bisa menyebabkan kebijakan pengendalian inflasi yang diambil justru bisa kontraproduktif.

Peningkatan harga-harga komoditas, khususnya pangan, diperkirakan akan memberi tekanan inflasi secara global. Itulah kenapa dunia kini memberikan perhatian yang besar terhadap ancaman inflasi ini. Ini mengingat, bila inflasi ini tak dapat dikendalikan, hal itu akan menyebabkan proses pemulihan ekonomi dunia yang kini berlangsung akan mengalami gangguan.

Kini, sejumlah negara telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi potensi ancaman inflasi ini. Misalnya, sejumlah negara sudah mulai menaikan suku bunga acuannya (semacam BI Rate-nya Indonesia) dalam rangka menjaga agar capital inflow tidak kembali keluar gara-gara inflasi. China, misalnya, untuk memerangi Inflasi, salah satu langkah penting yang diambil adalah melakukan intervensi pasar dengan meredam permintaan. Pada tahun ini, China akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonominya untuk mencegah overheating. Itulah sebabnya, China meminta BUMN-BUMN miliknya untuk menurunkan investasinya melalui penetapan kebijakan kenaikan dividen pay out ratio menjadi maksimal 15 persen, dari rata-rata sekitar 5 persen.

Diperkirakan, kebijakan China ini akan memberikan berpengaruh yang cukup siginifikan terhadap penurunan harga komoditas dunia. Itulah seperti yang saya katakan di atas, tetap ada peluang bahwa pergerakan kenaikan harga komoditas ini akan bergerak normal, tidak ekstrim seperti tahun 2008, dimana harga minyak bisa menyentuh US$130 per barel. Kebijakan China ini tentu perlu kita antisipasi, sebab China merupakan konsumen terbesar didunia untuk beberapa macam komoditas, baik itu komoditas tambang maupun pangan.

Bagi Indonesia , peningkatan harga komoditas bahan pangan internasional, tentunya akan mempengaruhi naiknya harga bahan pangan domestik. Berdasarkan pengalaman tahun 2008, kenaikan harga minyak mendorong peningkatan hampir seluruh harga bahan pangan, baik internasional maupun domestik. Namun, kalau kita cermati, kenaikan harga minyak dunia sesungguhnya bukanlah faktor utama penyebab rentetan inflasi pangan.

Satu studi menyebutkan bahwa bila harga minyak internasional naik 10 persen (dari asumsi APBN 2011 sebesar US$80 per barel, inflasi diperkirakan hanya naik sekitar 0,08 persen dengan asumsi tidak terjadi kenaikan harga BBM. Sementara itu, bila harga minyak internasional naik 10 persen dari asumsi APBN 2011, diperkirakan harga komoditas pangan seperti tepung terigu, kedelai dan produk turunannya, dan minyak goreng hanya akan mengalami kenaikannya kurang dari 1 persen.

Oleh karena itulah, kita perlu cermat dalam menentukan penyebab inflasi di Indonesia. Sebab, kenaikan harga komoditas internasional tidak seketika akan memberikan pengaruh signifikan terhadap inflasi kita. Tahun 2011, tekanan inflasi kita diperkirakan akan berasal dari volatile food dan administered. Inflasi volatile food diperkirakan berasal dari pasokan pangan dalam negeri karena faktor iklim, rencana kebijakan penetapan minimum price beras, dan rencana kenaikan harga eceran tertinggi pupuk. Sementara itu, inflasi administered diperkirakan terutama karena rencana pembatasan penggunaan premium.

Belum lama ini, dalam rangka menjaga pasokan pangan dalam negeri, pemerintah menerapkan kebijakan Bea Keluar ekspor untuk sejumlah komoditas, seperti CPO sebesar 25 persen. Sebagai sebuah exercise policy dan kebijakan antisipasi, kebijakan ini memang perlu dilakukan. Namun, mengingat bahwa inflasi kita sejatinya tidak semata-mata karena kenaikan harga komoditas ini, sebaiknya evaluasi atas efektivitas kebijakan ini perlu dilakukan secara periodik. Terlebih lagi, untuk menjaga pasokan CPO bagi konsumsi dalam negeri, pemerintah dapat menerapkan kebijakan mandatori (domestic mandatory obligation/DMO).

Setidaknya, terdapat tiga langka untuk menjaga inflasi agar tetap terkendali. Pertama, untuk menjaga stabilitas harga bahan pangan (volatile foods), pemerintah perlu fokus pada (i) upaya memperlancar pasokan komoditas bahan pokok, terutama beras; (ii) meningkatkan efektivitas peran BULOG khususnya dalam menjaga harga beras; dan (iii) menciptakan mekanisme automatic adjustment untuk pemenuhan pasokan dalam negeri.

Kedua, untuk meminimalkan dampak kebijakan harga pemerintah terhadap inflasi (administered prices), pemerintah perlu melakukan upaya-upaya seperti (i) pengaturan besaran dan waktu (timing) kenaikan harga komoditas strategis (BBM, elpiji & TDL) pada bulan-bulan yang secara historis inflasinya rendah dan (ii) memitigasi risiko atas dampak rambatan terhadap komoditas lain, termasuk risiko kelangkaan.

Ketiga, penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah khususnya dalam mengatasi permasalahan produksi dan distribusi maupun dalam edukasi kepada masyarakat.

Dengan langkah pengendalian inflasi yang tepat, bencana yang ditimbulkan karena faktor kenaikan harga komoditas dapat diminimalkan. Sehingga, kita pun bisa memaksimalkan berkah dari kenaikan harga komoditas ini untuk mendongkrak kinerja ekspor.***

Dimuat Republika, Senin, 31 Januari 2011

Republika, Senin, 31 Januari 2011