Catatan Perekonomian 2011: “Tumbuh Positif, Tapi Masih Sub-Optimal”

0
14

Tahun 2011 sebentar lagi berakhir. Kita mencatat ada banyak hal positif yang berhasil ditorehkan perekonomian Indonesia. Kesimpulan tentang hal positif yang diraih perekonomian kita sebenarnya dtercermin dari perbaikan peringkat sovereign Indonesia menjadi investment grade oleh Fitch pada 15 Desember 2011 lalu. Fitch baru saja menaikan peringkat Indonesia untuk foreign currency long-term senior debt pada BBB- dengan outlook stable dari peringkat sebelumnya (BB+/Positive). Keputusan menaikkan peringkat ini didasarkan pada peningkatan kinerja perekonomian, likuiditas eksternal yang lebih kuat, rasio utang pemerintah (public debt) yang rendah dengan tren menurun, serta kebijakan makro yang berhati-hati.

Penulis sendiri memang mencatat beberapa hal positif yang pantas dihargai dengan investment grade. Di tengah krisis ekonomi global (terutama di Eropa) selama 2011, tiga pilar utama ketahanan ekonomi kita: perdagangan, keuangan, dan fiskal tetap menunjukkan kinerja yang solid. Hingga kuartal III 2011, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 6,5%, tertinggi di Asia Tenggara. Diperkirakan, pada tahun 2011 ini, perekonomian Indonesia tumbuh 6,5%, melampaui pencapaian tahun lalu sebesar 6,1%.

Kuatnya kinerja pertumbuhan ini, terutama ditopang oleh kuatnya basis permintaan domestik dalam struktur perekonomian kita. Sehingga, dampak rambatan krisis Eropa melalui jalur perdagangan (trade channel), yang telah kita rasakan dalam beberapa bulan terakhir ini, tidak mempengaruhi kinerja perekonomian secara keseluruhan. Terlebih lagi, meskipun ekspor (secara volume) kita mulai terganggu, namun nilainya tetap meningkat karena ditopang oleh tingginya harga komoditas.

Ketangguhan stabilitas sistem keuangan Indonesia juga teruji di tengah persistensi gejolak pasar keuangan global. Indeks Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia turun ke 1,68 (Oktober 2011) dari 1,75 pada awal 2011, atau jauh lebih rendah dari periode krisis 2008 sebesar 2,43. Ini tidak terlepas dari kemampuan perbankan (termasuk lembaga keuangan non bank) kita yang semakin baik dalam menyerap risiko instabilitas.

Di sisi fiskal, kita juga berhasil menjaga fiskal kita tetap aman, khususnya dalam menjaga rasio utang pemerintah. Rasio utang pemerintah terhadap PDB saat ini diperkirakan berada di level 25%, jauh menurun dibanding posisi tahun 2005 sebesar 47%. Realisasi defisit fiskal 2011 juga diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan asumsi defisit APBN-P 2011 sebesar 2,1%. Perkiraan ini didasari oleh lebih baiknya realisasi penerimaan pemerintah dibandingkan 6 tahun terakhir serta relatif lebih terbatasnya belanja pemerintah. Hanya saja, rendahnya defisit APBN 2011 ini juga menunjukkan masih berlanjutnya kelemahan pengelolaan fiskal kita, terutama upaya untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas realisasi belanja pemerintah.

Penyerapan belanja kementerian/lembaga sampai dengan Oktober 2011 tercatat masih rendah dan diperkirakan hingga akhir 2011 realisasi belanja pemerintah pusat hanya mencapai 95% dari APBN-P. Sebaliknya, belanja subsidi justru meningkat signifikan dan dipastikan melebihi pagu APBN-P 2011, terutama disebabkan oleh tingginya harga minyak mentah dan volume konsumsi BBM bersubsidi yang di atas target. Sementara itu, alokasi belanja modal yang lebih tinggi ternyata tidak mendorong peningkatan realisasi investasi pemerintah, sehingga terjadi penurunan kontribusi fiskal terhadap investasi pemerintah. Berdasarkan situasi ini, kontribusi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi 2011 diperkirakan lebih rendah.

Tanpa bermaksud mencari-cari kekurangan, tampaknya kita juga tetap perlu kritis dalam membaca kinerja positif perekonomian kita tersebut. Pertama, masih tanda tanya: apakah kinerja positif ini akan berlanjut pada tahun depan. Faktanya, dampak rembetan krisis Eropa kini telah mulai memberikan pengaruh negatif terhadap perekonomian Indonesia. Rupiah kini mulai tertekan dan cadangan devisa kita mengalami penurunan. Pada 7 Desember 2011, cadangan devisa turun menjadi US$111 miliar dari posisi US$113,96 milyar pada Oktober 2011. Dalam 3 bulan terakhir ini, cadangan devisa menurun sekitar US$13,5 milyar.

Dari jalur perdagangan, akibat krisis Eropa, ekspor pada Oktober lalu memperlihatkan penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar -4,21% (month to month/mom), sedangkan impor tumbuh sebesar 3,18% (mom). Kinerja ekspor impor ini menyebabkan surplus perdagangan mengalami penurunan signifikan menjadi USD1,15 milyar dari USD2,37 milyar pada September 2011. Kinerja ekspor ini sejatinya juga tertolong oleh masih tingginya harga-harga komoditas, karena ekspor kita relatif masih didominasi oleh ekspor komoditas. Di samping itu, relatif kuatnya ekspor Indonesia, disebabkan karena permintaan di Asia (khususnya China dan India) masih tinggi karena belum terlalu terpengaruh krisis Eropa.

Pada tahun 2012, Asia (khususnya China dan India) diperkirakan tak akan bisa lari guncangan perekonomian global saat ini. Di China, tanda-tanda melemahnya perekonomiannya telah sangat jelas, dan bukan hanya terlihat di sektor yang bergantung dengan pertumbuhan ekspornya. Laju ekspor China per Oktober 2011 hanya naik 15,9% (yoy) yang merupakan angka terendah selama dua tahun terakhir. Kondisi China ini cukup mengkhawatirkan, sehingga dunia pun meminta China untuk meningkatkan konsumsi domestik. Dan melemahnya perekonomian China (termasuk India) diperkirakan akan melanjutkan penurunan kinerja ekspor Indonesia.

Kedua, Bank Indonesia (BI) telah membuat estimasi bahwa perekonomian Indonesia berpotensi meraih pertumbuhan potensial sebesar 7,0%. Syaratnya, apabila ditopang pertumbuhan investasi minimal 12% setiap tahun. Sayangnya, berdasarkan pengalaman setidaknya dalam lima tahun terakhir, realisasi pertumbuhan investasi Indonesia kurang dari 10% per tahun. Investasi pemerintah yang kita harapkan menjadi stimulator investasi nasional, justru kinerjanya mengecewakan, seperti terlihat dari APBN 2011. Di sisi lain, APBN kita justru memperbanyak pengeluaran yang tidak produktif (seperti subsidi BBM), akibat kurang tegasnya kebijakan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi dan kenaikan harga BBM. Padahal, pengurangan subsidi BBM diperlukan untuk memperbesar investasi pemerintah.

Kita memang bersyukur dengan kinerja perekonomian selama 2011. Namun, patut digarisbawahi bahwa kinerja tersebut masih sensitif dengan pengaruh eksternal dan sub-optimal. Oleh karenanya, sangat dibutuhkan terobosan penting untuk memperkuat pondasi perekonomian kita. Dalam pengamatan penulis, BI telah memulai langkah-langkah yang mungkin tidak populer, tetapi penting dilakukan untuk mengarahkan kebijakan moneter agar lebih pro terhadap sektor riil. Tetapi, itu belum cukup. Kita juga menunggu terobosan penting di sisi kebijakan fiskal. Termasuk, kita juga perlu terobosan kebijakan di sisi supply, khususnya yang terkait dengan penyediaan infrastruktur dan pembenahan birokrasi.***

*)Analisis ini dimuat di Koran Tempo, Rabu, 28 Desember 2011