Dibalik Lambatnya Penurunan Suku Bunga Kredit

0
16

Tingginya suku bunga kredit masih dikeluhkan banyak pihak. Keluhan ini memang bisa dimengerti. Ini mengingat, suku bunga kredit memang merupakan komponen penting bagi kegiatan investasi. Tentunya, ini juga perlu dicermati oleh otoritas perbankan dan juga kalangan perbankan: kenapa penurunan suku bunga kredit berjalan lambat.

Mengacu data, suku bunga kredit memang telah menurun. Sebagai misal, jika pada Desember 2008 suku bunga kredit modal kerja (KMK) berada di level 14,63%, pada Desember 2009 turun menjadi 13,27% atau turun sebesar 0,72%. Suku bunga kredit investasi (KI) juga menurun, yaitu dari 13,99% pada Desember 2008 menjadi 12,55% pada Desember 2009 atau turun 1,44%. Sementara itu, suku bunga kredit konsumsi (KK), sepertinya tak bergeming, berada di level 15,81% pada Desember 2009.

Terkait dengan lambatnya penurunan suku bunga kredit ini, perlu dianalisa: apakah ini sebuah bentuk keengganan dari kalangan perbankan untuk memupuk keuntungannya? Ataukah, fenomena ini merupakan kejadian yang alamiah? Tulisan pendek ini mencoba untuk mencari jawabannya.

Suku bunga kredit terbentuk karena kombinasi dari berbagai faktor, yaitu biaya dana (cost of fund), beban operasional, risiko, dan margin bagi bank. Oleh karenanya, untuk melihat penyebab dibalik lambatnya penurunan suku bunga kredit, maka analisanya perlu mengacu pada faktor-faktor pembentuk suku bunga kredit di atas.

Pertama, cost of fund setidaknya dipengaruhi oleh dua hal: komposisi dana dan suku bunga dana. Per Desember 2009, dana masih didominasi dana berbiaya mahal (deposito), sebesar 45,70% dari total DPK. Meski begitu, porsi deposito terhadap DPK ini telah menurun, dimana pada Desember 2008 mencapai 47,04%. Penurunan porsi deposito tersebut, terutama disebabkan oleh kenaikan yang cukup signifikan porsi tabungan yang meningkat, dari 28,44% pada Desember 2008 menjadi 30,69%.

Suku bunga simpanan juga telah mengalami penurunan signifikan. Sebagai indikasi, bila pada Desember 2008 suku bunga Deposito 1 Bulan berada di level 10,71%, selama 2009 trennya terus menurun dan pada Desember 2009 berada di level 6,77% atau turun 3,94%. Suku bunga Deposito 3 Bulan juga mengalami penurunan tajam, yaitu dari 11,17% pada Desember 2008 menjadi 7,45% atau turun sebesar 3,72%. Penurunan suku bunga deposito ini jauh lebih tajam dibandingkan suku bunga kredit.

Kedua, kita perlu melihat biaya operasional perbankan. Sebagai indikasi besarnya biaya operasional, kita bisa melihat besarnya BOPO (beban operasional dibanding pendapatan operasional). Semakin tinggi BOPO, berarti semakin tinggi beban operasional yang ditanggung bank yang dapat berimbas pada tingginya suku bunga kredit. Pada posisi Desember 2009, BOPO bank-bank umum berada di level 86,63% atau menurun dibandingkan posisi Desember 2008 sebesar 88,59%. Namun demikian, selama 2009 secara rata-rata BOPO sesungguhnya cukup tinggi, yaitu sebesar 89,58%, bahkan pada Januari 2009 mencapai 101%.

Ketiga, tingginya BOPO biasanya akan menyebabkan net interest margin (NIM) meningkat untuk menutupi besarnya beban operasional, sekaligus untuk memperoleh margin keuntungan. Khususnya bank-bank yang hanya mengandalkan pendapatan bunga sebagai sumber pendapatan, seperti bank non devisa, besarnya NIM sangat menentukan kelangsungan operasional mereka. Itulah sebabnya, NIM bank-bank non devisa, biasanya di atas bank-bank umum.

Posisi pada Desember 2009, NIM bank-bank umum berada di level 5,56% atau sedikit menurun dibanding posisi Desember 2008 sebesar 5,66%. Sementara itu, NIM selama 2009 sesungguhnya relatif stabil. Dengan kata lain, sekalipun BOPO masih tinggi, namun bank tidak serta merta menaikan NIM, yang berarti bank sebenarnya rela margin keuntungannya terpangkas. Dengan kata lain, kalau sekarang bank-bank umum mengalami kenaikan laba, dapat diduga itu disebabkan oleh ekspansi volume bisnis dan peningkatan fee based income (FBI).

Keempat, lalu bagaimana dengan tingkat risiko kredit selama tahun 2009? Salah satu indikasi untuk mengetahui tingginya risiko kredit adalah dengan melihat kinerja kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Posisi Desember 2009, NPL bank-bank umum berada di level 3,31%, meningkat dibandingkan posisi Desember 2008 sebesar 3,20%. Selama tahun 2009, risiko kredit bank-bank umum sesungguhnya cukup tinggi yaitu di level 3,89%, sekalipun masih di bawah batas maksimal sebesar 5%.

Dari berbagai analisis di atas, terlihat bahwa seluruh komponen pembentuk suku bunga kredit sesungguhnya cukup kondusif bagi penurunan suku bunga kredit. Namun, dengan melihat bahwa penurunan suku bunga kredit yang lambat, memang perlu diteliti mengapa hal itu bisa terjadi. Meski begitu, mengatakan bahwa lambatnya penurunan suku bunga kredit karena keengganan kalangan perbankan juga tidak tepat. Faktanya, sekalipun BOPO tinggi dan NPL juga tinggi, bank-bank masih mempertahankan level NIM-nya alias tidak menaikkan NIM.

Terdapat satu faktor lain yang mungkin ini bisa menjadi indikasi: kenapa suku bunga kredit sulit turun lebih cepat. Faktor tersebut adalah volume kredit mikro, kecil, dan menengah (MKM) yang mengalami pertumbuhan signifikan. Per Desember 2009, kredit MKM mencapai Rp737,4 trilyun atau meningkat sebesar 16,3% dibanding posisi Desember 2008 yang mencapai Rp633,9 trilyun. Bahkan, khusus kredit mikro pertumbuhannya mencapai sekitar 20%. Pertumbuhan kredit MKM sebesar 16,3% ini jauh diatas pertumbuhan kredit secara nasional yang hanya tumbuh 9,96%.

Pertumbuhan yang signifikan pada kredit MKM, khususnya mikro, tentunya ikut menentukan perilaku suku bunga kredit. Salah satu karakteristik kredit MKM adalah beban operasionalnya yang tinggi, karena jumlah nasabahnya yang banyak. Oleh karenanya, NIM untuk kredit MKM juga biasanya tinggi. Kondisi inilah yang patut diduga menjadi penyebab suku bunga kredit terkesan enggan untuk turun dratis.

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa lambatnya penurunan suku bunga kredit lebih disebabkan oleh pertumbuhan kredit MKM yang tinggi, yang berarti dapat dimaknai adanya pergeseran pola pemberian kredit yaitu dari kredit korporasi ke kredit MKM, di samping tentunya risiko kredit yang juga masih tinggi. Oleh karenanya, kurang tepat bila melambatnya suku bunga kredit disebabkan karena keengganan perbankan. Namun demikian, suku bunga kredit masih terbuka untuk turun, khususnya dengan cara menekan BOPO dan risiko kredit.***

Dimuat di Koran Seputar Indonesia, Kamis, 18 Februari 2010