Investment Grade dan Momentum Sukuk

0
105

Moody’s akhirnya juga menaikkan sovereign credit rating Indonesia ke grup investment grade countries pada 18 Januari lalu. Kini, sovereign credit rating Indonesia menjadi Baa3/stable outlook. Seperti yang saya tulis di Bisnis, 2 Januari 2012 lalu, status investment grade ini akan menjadi momentum bagi kebangkitan pasar obligasi di Indonesia. Lebih spesifik lagi, jika korporasi (BUMN dan swasta) lebih jeli dalam membaca peluang ke depan, tahun 2012 adalah saat yang tepat bagi penerbitan sukuk (surat berharga berbasis syariah) di dalam negeri. Bagaimana penjelasannya?

 

Berdasarkan data dari Zawya, sukuk yang diterbitkan di pasar global selama 2011 mencapai US$84,4 milyar (rekor tertinggi). Jumlah ini meningkat 62% dibandingkan tahun 2010 yang mencapai US$52 milyar. Malaysia masih melanjutkan dominasinya sebagai penerbit sukuk terbesar di dunia. Selama 2011, Malaysia menerbitkan sekitar US$58 milyar atau 69% dari total penerbitan sukuk, diikuti negara-negara yang tergabung dalam the Gulf Cooperation Council (GCC), seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang mencapai US$19 milyar atau sekitar 23% dari total penerbitan sukuk di dunia. Indonesia menjadi penerbit sukuk terbesar kedua di Asia dengan pangsa 4% dari total penerbitan sukuk di dunia.

Dari total sukuk yang diterbitkan sebagian besar dijual di pasar domestik. Selama 2011, penjualan sukuk di pasar domestik mencapai US$75,8 milyar atau 89% dari total sukuk yang diterbitkan. Sisanya, sekitar 11% atau sekitar US$8,6 milyar diterbitkan di pasar internasional (global sukuk). Saya memiliki keyakinan, untuk saat ini, pasar domestik masih merupakan tempat paling tepat bagi penerbitan sukuk. Dalam konteks Indonesia, penerbitan sukuk di pasar domestik (baik dalam valuta asing maupun Rupiah) sejatinya juga penting untuk memperkuat nilai tukar Rupiah pada level yang diharapkan (expected level).

Salah satu faktor yang membuka peluang bagi korporasi kita untuk menerbitkan sukuk adalah investor sukuk di luar negeri saat ini juga sedang mencari pasar alternatif selain Malaysia dan GCC. Dan sejatinya, Indonesia merupakan pasar yang sangat ditunggu. Investor sukuk melihat Indonesia merupakan pasar yang dinilai lebih stabil diantara para penerbit sukuk di dunia. Indonesia memiliki  stabilitas ekonomi yang lebih baik di tengah krisis global saat ini, sekalipun dengan Malaysia. Malaysia adalah negara yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap ekspor. Rasio ekspor Malaysia terhadap PDB di atas 100%, sedangkan Indonesia hanya sekitar 30% dari PDB. Pada saat krisis global seperti saat ini, negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada ekspor akan lebih rentan dibanding negara yang perekonomian bertumpu pada kekuatan domestik.

Di sisi lain, Malaysia adalah negara yang telah lama masuk investment grade dengan overeign rating yang jauh di atas Indonesia. Malaysia masih memegang peringkat A- dari S&P, AAA dari Moody’s dan A- dari Ficth.  Dengan peringkat kredit yang tinggi, yield yang dapat diberikan oleh obligasi (termasuk sukuk) pemerintah Malaysia juga relatif rendah. Per 19 Januari lalu, yield untuk obligasi Malaysia (local currency) tenor 10 tahun sebesar 3,582. Bandingkan dengan obligasi bertenor 10 tahun milik pemerintah Indonesia (local currency) yang masih memberikan yield sebesar 5,644. Dengan tingkat risiko perekonomian yang relatif sama (untuk saat ini), semestinya peluang Indonesia menarik investor agar membeli surat berharga yang diterbitkan Indonesia lebih besar.

Negara-negara yang tergabung dalam GCC saat ini juga sedang mengalami tekanan. Seiring dengan krisis ekonomi global, pertumbuhan ekonomi GCC tahun ini diperkirakan akan lebih rendah dibanding tahun lalu. Pada 2011, ekonomi GCC diperkirakan tumbuh sekitar 7%, sedangkan tahun ini diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3,7%. Penyebabnya, ketidakpastian atas prospek pemulihan ekonomi global diperkirakan akan menurunkan permintaan minyak dari GCC dan pelemahan ekonomi GCC. Pada akhirnya, situasi ini akan menyebabkan sukuk dari GCC kurang menarik.

Perkembangan situasi internal kita juga tak kalah menariknya bagi penerbitan sukuk di pasar domestik. Pasar keuangan kita diperkirakan akan mengalami kelebihan likuiditas. Tidak hanya karena masuknya dana-dana asing ke Indonesia pasca investment grade, kebijakan otoritas ekonomi kita turut mendorong kelebihan likuditas tersebut. Salah satunya adalah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang akan mendorong penurunan suku bunga simpanan. BI kini sedang menyiapkan kebijakan untuk menurunkan suku bunga simpanan, khususnya deposito. Kebijakan ini diambil untuk mendukung kebijakan penurunan suku bunga kredit yang juga sedang disiapkan BI.

Kebijakan ini diperkirakan akan mendorong investor institusi untuk mengalihkan investasinya dari deposito ke surat berharga jangka panjang berpenghasilan tetap (fixed income long term securities). Pilihan mengalihkan dana ke instrumen fixed income non deposito ini terutama dilakukan untuk menjaga kepastian penghasilan dan sekaligus untuk meminimalkan risiko. Bila korporasi jeli, situasi ini sejatinya merupakan memomentum untuk menerbitkan obligasi atau sukuk. Penerbitan sukuk akan sangat ditunggu para investor institusional karena akan memberikan jaminan penghasilan yang ekuivalen dengan fixed income securities.
Menteri BUMN Dahlan Iskan belum lama ini juga menyatakan akan mendukung kebijakan BI untuk mewujudkan suku bunga simpanan dan kredit yang rendah. Dalam rangka ini, Menteri BUMN akan mendorong BUMN-BUMN untuk menggeser dana-dana BUMN yang ditempatkan di deposito, ke instrumen perbankan yang lebih murah. Di sisi lain, secara tidak langsung, langkah ini juga akan menjadi trigger bagi BUMN yang bergerak di sektor keuangan non bank untuk menempatkan investasinya  ke dalam instrumen di luar perbankan.

Hingga saat ini kita belum mengetahui seberapa besar dari rencana penerbitan surat berharga negara (SBN) akan diterbitkan dalam bentuk sukuk. Berdasarkan dokumen Kementerian Keuangan, per 16 Januari 2012, selama tahun 2012 ini pemerintah berencana menerbitkan SBN senilai Rp254,8 trilyun. Sementara itu, realisasi penerbitan sukuk negara tahun lalu mencapai sekitar Rp33 trilyun. Rendahnya sukuk yang diterbitkan pemerintah ini sejatinya menjadi peluang bagi korporasi untuk memaksimalkan potensi dana yang besar di pasar untuk menerbitkan sukuk.

Kesimpulannya, status investment grade semestinya menjadi momentum untuk menarik dana-dana jangka pendek agar dialihkan ke dalam instrumen jangka panjang (saham, obligasi, dan sukuk) semaksimal mungkin. Jangan sampai momentum ini terlewat begitu saja, karena negara-negara lain, khususnya emerging market juga tengah berlomba menarik dana-dana asing sebanyak mungkin. Penerbitan sukuk korporasi, juga semakin menemukan momentumnya, karena investor sukuk sedang mencari pasar alternatif. Jadi, rasanya sulit bagi korporasi akan memperoleh momentum sebagus seperti saat ini. Perlu diingat, tahun depan sudah menjadi tahun politik, yang kita tidak tahu bagaimana prospeknya.***

*) Sunarsip adalah Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI). Analisis ini dimuat Bisnis Indonesia, Sabtu, 4 Februari 2012