Krisis Global dan Antisipasi Indonesia*

0
40

Menjelang berakhirnya tahun 2011, perekonomian global kembali dihadapkan dengan situasi yang tidak menggembirakan, khususnya dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Kondisi perekonomian AS masih melemah dan tertekan oleh tingginya pengangguran. Situasi ini diperburuk dengan diturunkannya peringkat utang (credit rating) AS oleh S&P dari AAA ke AA+ yang membuat para investor dunia cemas tentang prospek jangka panjang AS. Bank Sentral AS diperkirakan akan terus mempertahankan suku bunga acuan di AS yang rendah sampai pertengahan 2013.

Kondisi ekonomi Eropa juga semakin mengkhawatirkan. Tingginya kekhwatiran pasar terhadap posisi fiskal Italia dan juga Spanyol, telah membuat Bank Sentral Eropa akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah darurat dan mulai meningkatkan program pembelian asetnya dengan membeli obligasi pemerintah Itali dan Spanyol. Terlebih lagi, S&P juga baru saja menurunkan peringkat utang Italia dari posisi A+/A-1+ menjadi A/A-1.

Pertumbuhan ekonomi dunia secara umum juga telihat melemah, sebagaimana ditunjukan oleh data-data Purchasing Manager Index (PMI) global. Berdasarkan data dari Markit, The JPMorgan Global PMI Output Index pada Agustus lalu berada di level 51,5, yang menunjukkan adanya tren penurunan pertumbuhan ekonomi global dibandingkan posisi tertinggi yang terjadi pada Februari 2011 yang berada di level 59,1. Angka PMI Agustus ini merupakan terendah sejak dua tahun lalu ketika PMI berada di atas batas netral, 50,0. Intinya, sektor bisnis dan manufaktur global juga mulai menurunkan laju perkembangan aktivitasnya, seiring dengan antisipasi akan adanya moderasi di laju pertumbuhan ekonomi global.

Pada tahun 2012, mendatang prospek perekonomian global diperkirakan masih akan tertekan. Pada Juni 2011 lalu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2012 mendatang sebesar 4,5%, naik tipis dibandingkan proyeksi untuk tahun 2011 sebesar 4,3%. Proyeksi untuk tahun 2011 dan 2012 tersebut, itupun dengan catatan perekonomian China bisa tumbuh 9,5%. Namun, pada 19 September lalu, IMF kembali mengoreksi proyeksinya untuk tahun 2011 dan 2012 menjadi masing-masing hanya 4%, dengan catatan yang sama: China bisa tumbuh 9,5%.

***

Kondisi ekonomi global tersebut, tentunya tidak menguntungkan bagi Indonesia. Indikasinya sudah terlihat dari kinerja pasar keuangan kita. Sejak Agustus lalu, IHSG mengalami pelemahan. Beruntung, kondisi fundamental makroekonomi dan mikro emiten kita cukup solid sehingga mampu menahan gejolak yang berlebih, sehingga koreksi yang terjadi relatif minimal.

Indikasi adanya kekhawatiran terkait dampak rentetan (contagion effect) krisis AS dan Eropa juga dapat dibaca dari kebijakan yang dikeluarkan pihak otoritas. Demi perlunya menjaga stabilitas perekonomian di tengah meningkatnya ketidakpastian sistem keuangan global, Bank Indonesia (BI misalnya tetap mempertahankan level BI Rate sebesar 6,75%. Padahal, BI memiliki peluang untuk menurunkan BI Rate-nya di level 6,50% mengingat besarnya ekses likuiditas akibat masuknya dana-dana asing ke Indonesia. Selain itu, untuk mendorong kegiatan di pasar uang antar bank, BI juga memperlebar batas bawah koridor suku bunga operasi moneter yang semula 100 bps menjadi 150 bps di bawah BI rate.

Saat ini, efek yang ditimbulkan akibat ketidakpastian perekonomian global memang masih terbatas. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2011 akan mencapai 6,6%. Ekspor diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi sejalan dengan perkiraan masih tingginya realisasi perdagangan dunia serta harga komoditas dunia. Namun, pengaruh penurunan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan mulai terasa pada kinerja ekspor kita, setidaknya pada kuartal IV 2011. Indikasinya sudah dapat terlihat dari penurunan harga komoditas (yang menjadi salah satu penyumbang utama ekspor non migas kita) yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sebagai misal, tren harga CPO cenderung turun selama tahun 2011. Bila pada periode Januari-Maret 2011 harga CPO berada di level $1.251 per ton, selanjutnya turun menjadi US$1.147 per ton (April-Juni 2011), dan pada Agustus lalu menjadi US$1.083 per ton. Berdasarkan proyeksi Bank Dunia, harga CPO pada tahun 2012 akan menurun berada di bawah US$1.000 per ton. Harga minyak mentah dunia juga cenderung turun, dimana harga minyak WTI kini berada di bawah US$90 per barel. Beruntung minyak mentah kita sebagian besar di ekspor ke pasar Asia, yang masih memperoleh harga yang relatif lebih tinggi. Penurunan harga ini hampir terjadi pada seluruh komoditas primer yang diekspor Indonesia.

Penurunan harga-harga ini terutama dipengaruhi oleh ekspektasi akan menurunnya demand atas berbagai komoditas primer akibat melemahnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi global dan tingginya risiko perekonomian global. Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan melambatnya volume perdagangan dunia, yang akhirnya akan mempengaruhi perdagangan luar negeri (khususnya ekspor) Indonesia. Diperkirakan, situasinya akan mirip dengan pelemahan ekspor Indonesia yang terjadi pada tahun 2008, dimana sejak September 2008 hingga kuartal I 2009, ekspor Indonesia mengalami penurunan.

Secara umum, pelemahan sektor perdagangan Indonesia ini akan mengganggu kinerja perekonomian Indonesia. Khusus pada tahun 2011, dampaknya memang relatif rendah karena pertumbuhan ekonomi kita akan tertolong oleh kinerja sektor konsumsi: masyarakat dan pemerintah yang diperkirakan tinggi pada kuartal III dan kuartal IV 2011. Namun, untuk tahun 2012, bila tidak ada effort yang luar biasa, sepertinya kita harus rela menunda obsesi kita untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi ekonomi 7%, sebagaimana yang menjadi target dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2015.

Untuk mencegah dampak penurunan yang lebih dalam akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global, penguatan ekonomi domestik menjadi hal yang vital. Penulis berpendapat langkah-langkah pengamanan melalui penguatan ekonomi domestik yang pernah ditempuh pada tahun 2009 (sebagai antisipasi krisis global tahun 2008), baik di bidang fiskal dan moneter, tetap relevan untuk kembali diterapkan pada tahun 2012.

Saat ini adalah momentum yang tepat untuk melakukan berbagai penyesuaian atas kebijakan yang ada. RAPBN 2012 sedang dalam pembahasan sehingga terdapat ruang untuk melakukan penyesuaian, misalnya kembali merancang insentif fiskal. BI juga masih memiliki ruang yang cukup dengan memanfaatkan instrumen suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk memitigasi potensi penurunan kinerja perekonomian. Termasuk pula, pembahasan undang-undang tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) juga harus dituntaskan agar kita miliki protokol yang jelas dalam penanganan krisis sistem keuangan. Jadi, jangan sampai kita kehilangan momentum.***

*Dimuat oleh harian Seputar Indonesia (SINDO), Selasa, 27 September 2011. Sunarsip adalah Ekonom Kepala The Indonesia Economic Intelligence (IEI).