Membaca Sinyal Dari Neraca Pembayaran*

0
15

Neraca pembayaran Indonesia (NPI) memang bukan segalanya. Karena, NPI hanyalah suatu catatan yang menampilkan arus uang (devisa) yang keluar masuk Indonesia. Dana yang keluar dari Indonesia (yang dicatat sebagai transaksi debit pada NPI), tidak berarti perekonomian kita sedang dalam kondisi buruk. Dana keluar dari Indonesia bisa beragam interpretasinya. Dana keluar untuk impor, misalnya, bisa menunjukkan tingginya kemampuan daya beli masyarakat kita. Dari perspektif ini, meski terjadi “pemburukan” pada catatan NPI (karena banyak dana keluar dari Indonesia), tetapi maknanya bisa positif, yaitu telah terjadi perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Demikian juga sebaliknya, bila terjadi arus dana masuk, juga tidak bisa dimaknai sebagai sesuatu yang pasti positif bagi perekonomian kita. Perlu dilihat lebih jauh, apa penyebab masuknya dana-dana tersebut. Dana masuk yang berasal dari ekspor, tentunya sesuatu yang positif. Namun, apakah kita cukup bangga bila dibalik tingginya angka ekspor, ternyata diperoleh dengan menjual barang-barang tanpa olahan (sumber daya alam)? Demikian pula, bila terjadi arus modal masuk ke Indonesia, juga perlu dilihat, apakah merupakan investasi portofolio (hot money) atau investasi langsung (direct investment)? Pencermatan ini penting karena kedua jenis modal ini memiliki implikasi yang berbeda.

Karenanya, memang dibutuhkan pemahaman yang komprehensif untuk dapat memahami setiap perubahan angka dalam NPI. Meski tidak menggambarkan secara utuh perekonomian Indonesia, NPI tetap menjadi alat yang cukup efektif untuk membaca tanda-tanda perekonomian. Apakah perekonomian kita telah berada dalam jalur (track) yang benar atau belum, hal ini antara lain dapat dibaca dari setiap perubahan pada angka-angka dalam NPI.

Bank Indonesia (BI) pada pertengahan Mei lalu telah mempublikasikan kinerja NPI kuartal I 2013. Hasilnya, NPI kita mengalami defisit US$6,6 miliar, akibat tekanan yang terjadi pada neraca transaksi berjalan dan neraca modal. Tahun 2011, NPI kita masih mengalami surplus US$15,5 milyar. Pada tahun 2012, surplus NPI tinggal US$870 juta. Dengan kata lain, kinerja NPI kita memang trennya menurun. Pertanyaannya, apa sinyal yang kita peroleh dari angka-angka dalam NPI ini bila dikaitkan dengan situasi perekonomian Indonesia saat ini?

Perekonomian kita sesungguhnya berada dalam radar yang positif. Perekonomian Indonesia masih tumbuh sekitar 6% setiap tahunnya. Hanya, harus diakui bahwa kontribusi terbesar dari pertumbuhan ekonomi tersebut berasal dari sektor konsumsi. Sektor konsumsi, selain pangsanya terhadap PDB sangat besar, pertumbuhannya juga cukup besar. Tahun lalu, sektor konsumsi memiliki pangsa terhadap PDB sekitar 54,6% dan mengalami pertumbuhan sebesar 5,3%. Sehingga, kontribusi pertumbuhan sektor konsumsi terhadap pertumbuhan PDB selama 2012 mencapai 2,9%.

Tingginya pertumbuhan sektor konsumsi itu menandakan daya beli masyarakat yang meningkat. Tingginya daya beli ini biasanya akan dimanifestasikan oleh masyarakat dalam bentuk meningkatkan permintaan terhadap barang-barang bernilai tinggi. Sehingga, tidak mengheran bila dalam beberapa tahun terakhir ini sektor konstruksi, transportasi dan komunikasi, serta sektor jasa mengalami pertumbuhan yang pesat.

Sektor investasi juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Sayangnya, pertumbuhan sektor investasi masih lebih rendah dari ekspektasi yang diinginkan pemerintah. Tahun 2012 lalu, sektor investasi tumbuh 9,8% dan pangsanya terhadap PDB sebesar 33,2%, sehingga kontribusi pertumbuhan sektor investasi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 2,4%.

Sayangnya pertumbuhan yang tinggi, baik di sektor konsumsi maupun investasi ini, tidak dapat dipenuhi oleh industri-industri di dalam negeri. Konsumsi tinggi menyebabkan impor barang konsumsi juga tinggi. Pertumbuhan sektor investasi yang relatif tinggi juga menyebabkan impor barang modal dan bahan baku mengalami peningkatan. Itulah kenapa, kita saksikan di dalam NPI, neraca perdagangan kita pada 2012 lalu mengalami defisit untuk yang pertama kalinya sejak 1961.

Dengan kata lain, salah satu kesimpulan yang dapat kita ambil dari angka-angka dalam NPI tersebut adalah struktur industri kita masih rapuh. Setelah sekian puluh tahun Indonesia melakukan industrialisasi, ternyata belum mampu menghasilkan industri yang dapat menyediakan barang modal dan ternyata industri kita sebagian besar bahan bakunya masih impor. Inilah salah satu ironi dari negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi lemah dalam struktur industrinya.

Disayangkan memang. Padahal, bila kita mampu membenahi struktur industri kita, sesungguhnya hal ini dapat menjadi pendongkrak untuk meningkatkan pertumbuhan yang lebih tinggi, serta dengan penyebaran yang lebih baik, tidak hanya bergantung pada sektor konsumsi, tetapi menyebar ke sektor investasi dan ekspor. Sayang memang, bila akhirnya momentum tersebut terlewatkan begitu saja, akibat kita lamban dalam meningkatkan kapasitas infrastruktur dan masih tingginya hambatan birokrasi, hukum, serta regulasi. Berbagai kondisi inilah yang akhirnya menyebabkan pertumbuhan ekonomi kita lebih rendah dibanding potensinya, sehingga pengurangan kemiskinan pun berjalan relatif lambat.

Indonesia memiliki potensi tumbuh hingga 7% setiap tahunnya. Syaratnya, sesuai perhitungan BI, kita harus mampu meningkatkan pertumbuhan investasi minimal 12% setiap tahunnya. Kita juga harus mampu mengembalikan kejayaan sektor manufaktur seperti pada era sebelum krisis 1997/98. Termasuk, kita juga perlu memacu kinerja sektor pertanian yang pertumbuhannya masih di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk mengejar pertumbuhan investasi minimal 12% dan mengembalikan kejayaan sektor manufaktur dan pertanian tentunya dibutuhkan dana besar, tidak hanya dari swasta tetapi juga dari pemerintah. Nah, di sinilah ketidaktepatan alokasi yang terjadi pada subsidi APBN menemukan relevansinya. Sebab, tingginya subsidi BBM menyebabkan alokasi belanja modal (investasi) pemerintah menjadi semakin kecil. Termasuk pula alokasi belanja subsidi sektor pertanian juga semakin menurun proporsinya.

Karenanya, sangat penting bagi pemerintah untuk menata kembali alokasi anggaran yang tidak berimbang ini. Subsidi BBM yang terlalu besar harus dialihkan untuk kegiatan investasi bagi percepatan pembangunan ekonomi, seperti infrastruktur (termasuk infrastruktur migas), revitalisasi sektor manufaktur dan akselerasi pertumbuhan sektor pertanian. Melalui langkah-langkah strategis inilah, kita memiliki harapan perekonomian kita akan mampu tumbuh pada level yang mendekati potensinya dan mampu menurunkan tingkat kemiskinan secara lebih cepat.

Kesimpulannya, sinyal dari NPI kita, sesungguhnya memiliki dimensi yang penting, khususnya bagi pemerintah. Kuncinya, adalah benahi problem struktural kita, mulai dari fiskal, sektoral, serta sistem keuangan. Sebab, tanpa pembenahan struktural ini, rasanya sulit perekonomian kita mampu mencapai, atau mendekati level potensialnya.***

*Analisis ini dimuat oleh Republika, Senin, 27 Mei 2013.