Membedah Defisit Transaksi Berjalan*

0
91

Dalam sebulan ini, isu ekonomi yang sering menghiasi media massa adalah persoalan defisit transaksi berjalan (DTB. Sebagaimana tertera dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) selama tahun 2012 yang diterbitkan BI pada awal Agustus lalu, pada kuartal II 2012, transaksi berjalan kita mengalami defisit USD6,9 milyar (3,1% dari PDB), naik dibandingkan Kuartal I 2012 yang mencatat defisit USD3,2 miliar (1,5% dari PDB). Penyebab utamanya, surplus neraca perdagangan yang menyusut sehingga tidak dapat mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar. Sektor migas juga memberikan kontribusi negatif karena defisit neraca perdagangan minyak masih lebih besar daripada surplus neraca perdagangan gas.

 

Telah menjadi pengetahuan umum bila neraca jasa dan neraca pendapatan menjadi kontributor terjadinya DTB. Karena faktanya, neraca jasa dan neraca pendapatan memang selalu mengalami defisit. Dari sisi neraca jasa, defisit ini disebabkan oleh meningkatnya pembayaran jasa transportasi barang impor dan jumlah warganegara Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Sementara itu, defisit neraca pendapatan terjadi karena laba dan bunga yang diperoleh investor asing atas investasi mereka di dalam negeri yang terus meningkat seiring dengan nilai investasi mereka yang bertambah.

Yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah kinerja sisi neraca perdagangan. Bila dalam laporannya, BI menyebutkan surplus neraca perdagangan mengalami penyusutan, kalau kita membaca laporan BPS dalam empat bulan terakhir ini, neraca perdagangan kita justru mengalami defisit. Sejak April 2012, neraca perdagangan kita terus mengalami defisit, dimana defisit tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak Juli 2010. Puncaknya, pada Juni 2012 lalu yang mengalami defisit USD1,32 miliar, sedangkan pada Juli 2012, angka defisit neraca perdagangan menurun menjadi USD176,6 juta.

Secara kumulatif (Januari – Juli 2012), neraca perdagangan masih mengalami surplus US$335,5 juta. Namun, nilai surplus ini jauh merosot dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 yang mencapai US$16,25 milyar. Melemahnya kinerja perdagangan ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan dan jatuhnya harga-harga komoditas ekspor unggulan kita karena faktor krisis global. Di sisi lain, tingginya permintaan domestik (baik konsumsi maupun investasi), impor kita menunjukkan peningkatan.

Sesungguhnya, banyak “cerita” dibalik melemahnya kinerja neraca perdagangan tersebut. Seperti telah disebut di atas, melemahnya ekspor karena dua hal: permintaan yang melemah dan turunnya harga komoditas. Ekspor Indonesia ke negara-negara di Zona Eropa sesungguhnya tidak terlalu besar, sehingga krisis di Eropa sesungguhnya tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja ekspor kita. Ekspor kita terutama di sejumlah negara Asia. Sayangnya, negara-negara Asia pun kini mengalami kinerja pertumbuhan ekonomi yang menurun akibat krisis Eropa. Sejak tahun 2011, China misalnya, indeks industri manufakturnya cenderung merosot dan pada Agustus lalu memasuki fase kontraktif, sebagaimana ditunjukkan oleh angka Purchasing Manager’s Index (PMI) yang kini berada di level di bawah 50 (level kontraktif).

Di sisi lain, nilai impor kita tetap konsisten berada di level yang tinggi (sekitar USD14 – 16 milyar setiap bulannya). Tingginya nilai impor ini juga berkaitan dengan banyak hal. Salah satunya adalah karena tingginya impor BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat. Berdasarkan data, selama Januari – Juli 2012 ini, realisasi konsumsi BBM telah mencapai sekitar 25,6 juta kilo liter atau sekitar 64% dari kuota volume BBM tahun 2012. Tingginya realisasi volume konsumsi BBM ini, tentunya harus dipenuhi melalui impor karena kemampuan produksi BBM domestik yang tidak mencukupi.

Tingginya nilai impor, sesungguhnya tidak selalu memiliki cerita yang negatif. Tingginya impor juga menunjukkan bahwa permintaan domestik yang tinggi yang berarti daya beli masyarakat kita juga tinggi, sebagaimana ditunjukkan oleh tingginya impor barang konsumsi. Tingginya impor juga menunjukkan bahwa kegiatan investasi dalam perekonomian domestik bergairah tumbuh, sebagaimana ditunjukkan oleh tingginya impor bahan baku dan barang modal. Tingginya impor ini juga berkorelasi positif dengan capaian perekonomian Indonesia yang selama tahun 2012 ini mampu tumbuh di atas 6%, di saat negara-negara lain justru perekonomiannya melemah.

Namun, tentunya kita tidak bisa membiarkan neraca transaksi berjalan terus mengalami defisit, khususnya dari sisi neraca perdagangan. Ini mengingat, neraca transaksi berjalan merupakan salah satu barometer kita yang penting di mata pelaku ekonomi, baik domestik maupun luar negeri. Faktanya, melemahnya kinerja neraca transaksi berjalan tersebut telah direspon secara negatif oleh pasar. Meski neraca modal dalam NPI mengalami peningkatan, namun akibat kombinasi defisit neraca perdagangan dan DTB tersebut, telah menyebabkan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap USD cenderung melemah selama tahun 2012. Sejauh ini, Rupiah menunjukkan kinerja yang paling buruk jika dibandingkan dengan mata uang pada kawasan Asia Tenggara. Implikasi dari pelemahan Rupiah ini menyebabkan cadangan devisa tergerus dari sebesar USD111,99 milyar menjadi USD106,6 milyar pada Juli 2012 sebelum menjadi USD108,99 milyar pada Agustus 2012.

Tentunya, banyak hal yang perlu dilakukan pihak otoritas ekonomi (fiskal dan moneter) untuk mengatasi tekanan DTB ini. Selain berharap bahwa situasi perekonomian global kembali pulih, berbagai upaya yang berasal dari internal kita juga perlu dilakukan. Berbagai langkah berikut, saya kira penting untuk dilakukan oleh otoritas ekonomi. Pertama, mengendalikan tingginya permintaan domestik melalui serangkaian kebijakan untuk menekan daya dorong konsumsi masyarakat yang berlebihan. Dari sisi moneter (perbankan), saya kira upaya pengendalian terhadap laju pertumbuhan kredit (konsumsi) bisa menjadi instrumen penting untuk menekan daya dorong konsumsi, untuk mencegah terjadinya overheating yang belakangan ini dikhawatirkan akan terjadi oleh sejumlah analis.

Memang kebijakan ini memiliki risiko berupa potensi turunnya pertumbuhan ekonomi, bila dilihat dari tingginya kontribusi sektor konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi kita. Namun, saya kira itu adalah harga yang wajar untuk “dibayar”, bila kita ingin menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tidak overheating, sekaligus menekan laju impor dari sisi konsumsi.

Kedua, pemerintah perlu konsisten untuk memperbaiki neraca migas. Saya kira, kebijakan pengendalian konsumsi BBM yang dijalankan tahun lalu perlu dioptimalkan, ditengah ketidaksiapan kita menambah kapasitas kilang produksi BBM. Ketiga, peningkatan kinerja ekspor tentu harus menjadi perhatian. Tapi, kita semua tahu bahwa tak mudah mengubah pola ekspor kita dalam waktu singkat, di tengah ketidakpastian ekonomi global ini. Namun, penting bagi Indonesia untuk memperbaiki daya saing kita, agar kita ekspor tidak tergantung pada komoditas tertentu saja dan agar tidak tergantung pada fluktuasi harga komoditas.***

*)Sunarsip adalah Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (www.iei.or.id). Analisis ini dimuat REPUBLIKA, Senin, 10 September 2012.