Menyoal Fundamental Ekonomi Kita

0
39

Suka atau tidak suka, adalah benar klaim dari pemerintah bahwa perekonomian kita bergerak tumbuh. Karena faktanya, di tengah krisis ekonomi global, perekonomian kita tetap tumbuh positif. Tapi, suka atau tidak suka, kita juga harus mengakui kebenaran klaim dari pihak di luar pemerintah sana bahwa fundamental ekonomi kita belum kuat. Karena faktanya, pertumbuhan ekonomi yang berhasil kita raih, belum mampu memberikan manfaat maksimal bagi perbaikan ekonomi masyarakat. Mau bukti?

Di tengah krisis ekonomi yang melanda dunia, khususnya di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan sejumlah negara Asia lainnya, ekonomi kita mampu tumbuh positif. Pada tahun 2008 dan 2009, ekonomi kita masing-masing tumbuh 6,1% dan 4,6%. Pada kuartal I dan II 2010 ini, ekonomi kita tumbuh masing-masing 5,69% dan 6,17%. Selain itu, indikator makro ekonomi lainnya juga bagus, seperti inflasi yang relatif rendah, yang berarti kita cukup mampu melindungi warga miskin kita dari erosi kesejahteraan akibat kenaikan harga-harga. Tetapi, apakah capaian ini (termasuk capaian positif lainnya) cukup menyakinkan bahwa fundamental ekonomi kita kuat? Untuk menjawabnya, mari kita cermati data-data dari sumber pertumbuhan ekonomi kita.

Pasca krisis ekonomi 1997/1998, sejatinya daya dorong pertumbuhan ekonomi kita sudah semakin lemah, seperti ditunjukkan oleh kinerja pertumbuhan ekonomi kita yang kurang dari 7%. Bahkan, sebuah studi menunjukkan bahwa bila tidak ada perubahan struktural dalam perekonomian kita, dalam panjang ekonomi kita maksimal hanya mampu tumbuh rata-rata 6%. Penyebabnya, mesin-mesin pertumbuhan ekonomi di era sebelum krisis, kini sudah banyak yang lumpuh.

Kalau kita cermati, sektor-sektor ekonomi yang dulu menjadi primadona dalam kontribusinya terhadap perekonomian, pasca krisis 1997/1998 kini kinerja rendah sekali. Sektor manufaktur yang pada era sebelum krisis mampu tumbuh di atas 10%, kinipertumbuhannya justru di bawah pertumbuhan nasional. Sektor pertanian, yang sejak dulu pertumbuhannya di bawah pertumbuhan nasional, kontribusinya kinisemakin kecil. Padahal, jumlah penduduk yang hidup di sektor ini masihtinggi. Di sisi lain, pertumbuhan sektor manufaktur terlalu lambat, sehingga penyerapan tenaga kerja di sektor ini relatif kecil.Akibatnya, pengurangan jumlah orang miskin menjadi lebih lambat dibandingkan dengan periode sebelum krisis.

Kalau demikian keadaannya, lalu dimana logikanya ekonomi kita bisa bertahan dan tumbuh positif di tengah badai krisis ekonomi global saat ini? Jawabannya, sederhana.Pertama, production network kita dengan luar negeri masih rendah. Pada tahun 2000, kontribusi ekspor terhadap PDB sebesar 41%. Namun, kontribusi ekspor terhadap PDB pada akhir 2009 hanya tinggal 24%. Bandingkan dengan negara-negara lain, yang kontribusi ekspornya terhadap PDB bisa mencapai di atas 100%, seperti yang dimiliki Singapura, Hongkong, dan Malaysia.

Kedua, penopang ekonomi kita adalah sektor konsumsi. Kontribusi konsumsi terhadap PDB kita mencapai sekitar 60% (tepatnya 56,7% pada kuartal II 2010). Kombinasi dari rendahnya production network dan ketergantungan pada sektor konsumsi inilah yang menyelamatkan ekonomi kita dari tekanan krisis ekonomi global. Pertanyaannya, baikkah struktur ekonomi seperti ini dalam jangka panjang? Jawabannya, tentu tidak. Kenapa?

Konsumen kita umumnya bukanlah tipe konsumen yang selektif terhadap kualitas produk. Itulah sebabnya, impor barang konsumsi kita sangat tinggi. Namun, korbannya adalah industri domestikseperti yang kita saksikan dan kita rasakan dampaknyasaat ini. Ketergantungan ekonomi pada konsumsi domestik sejatinya juga tidak bisa terus menerus, meskipun tetap perlu dijaga. Sebab, kalau kita cermati, pertumbuhan konsumsi kita sejatinya terbatas. Dalam 9 tahun terakhir ini, pertumbuhan sektor konsumsi tidak pernah tumbuh di atas 5%, kecuali tahun 2008 yang tumbuh 5,3%. Mengingat bahwa pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif di Indonesia begitu besar, sementara konsumsi hanya tumbuh kurang dari 5%, itu artinya daya dorong sektor konsumsi sebenarnya terbatas, karena daya beli masyarakat yang terbatas pula.

Melihat fakta itu, mau tidak mau kita perlu menata kembali sisi production network kita di luar negeri. Itu berarti, sekalipun kita tetap perlu menjaga pasar domestik, orientasi ekspor harus kembali digalakkan. Pertanyaannya: bagaimana kondisi ekspor kita saat ini? Kinerja ekspor kita sejatinya memiliki kecenderungan meningkat. Namun, dibalik peningkatan ekspor tersebut sejatinya juga mengindikasikan adanya sejumlah kekurangan. Ekspor kita yang tinggi bukanlah ditopang oleh keunggulan kompetitif dari produk ekspor kita. Ekspor kita umumnya ditopang oleh keunggulan komparatif yang kita miliki (berasal sumber daya alam dengan derajat pengolahan yang rendah). Faktor harga juga turut menentukan pertumbuhan ekspor kita. Itulah kenapa, kinerja ekspor kita sangat sensitif terhadap faktor harga internasional.

Indonesia sejatinya memiliki produk-produk unggulan yang disegani di luar negeri. Kita adalah produsen CPO terbesar di dunia. Kakao dan timah kita adalah terbesar kedua di dunia. Indonesia juga memiliki sumber nikel, batubara, dan emas yang besar (10 besar dunia). Namun, potensi itu belum menjadikan kita sebagai market leader untuk produk-produk tersebut. Kenapa? Karena, kita tidak bisa menentukan sendiri harga atas produk-produk unggulan yang kita miliki.

CPO yang kita ekspor masih minim sentuhan olahan pabrikan Indonesia, karena industri hilirnya justru berkembang di luar negeri. Pelabuhan yang dipakai untuk mengekspor produk kita, bukanlah pelabuhan Indonesia, tetapi Malaysia dan Singapura. Akibatnya, nilai tambah dari produk-produk unggulan kita bagi Indonesia relatif kecil. Indonesia juga produsen minyak mentah (sekalipun sekarang net importir). Namun, yang menikmati nilai tambah tertinggi dari keberadaan minyak justru Singapura yang tidak memiliki minyak. Kenapa? Karena Singapura memiliki kilang minyak terbesar di Asia Pasifik, kedua terbesar di dunia setelah Rotterdam Belanda.

Dengan berbagai kondisi di atas, apakah kita bisa dengan lega untuk menyebut bahwa fundamental ekonomi kita saat ini kuat? Silahkan jawabannya temukan dalam lubuk hati kita yang paling dalam. Yang jelas, sebagai warga negara yang punya obsesi tinggi terhadap masa depan bangsa ini, tentu kita tidak ingin berlama-lama berada dalam kondisi seperti saat ini. Kemajuan yang lebih cepat perlu dilakukan, karena modal yang kita miliki cukup untuk mencapai hal itu.

Banyak hal yang perlu dilakukan. Kuncinya adalah bagaimana seluruh kebijakan bertumpu pada peningkatan daya saing. Kesiapan infrastruktur, reformasi birokrasi, kebijakan perdagangan yang mendukung pengembangan sektor industri dan pertanian, kebijakan sektor industri yang linkage dengan keunggulan komparatif kita, kebijakan fiskal dan moneter yang supported, menjadi kunci bagi suksesnya penguatan daya saing. Sebab disinilah sejatinya sumber bagi terbentuknya kekuatan fundamental ekonomi yang sejati. Dan bentuk kekuatan fundamental seperti inilah yang bisa memberikan nilai tambah riil, baik bagi peningkatan output maupun terhadap employment. ***

Dimuat Republika, Senin, 25 Oktober 2010