Multipolaritas Global Dan Posisi Indonesia

0
61

Belum lama ini, Bank Dunia mengeluarkan laporan bertajuk “Global Development Horizons 2011: Multipolarity The New Global Economy”. Laporan tersebut menjelaskan bahwa kini ekonomi global telah memasuki era baru dengan ditandai bergesernya blok pertumbuhan ekonomi global. Bila selama ini negara-negara maju menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi global, kini posisi tersebut mulai bergeser ke negara-negara berkembang (emerging market). Seiring dengan pergeseran tersebut, peran perusahaan multinasional dari emerging market pun kini semakin diperhitungkan sebagai pendorong arus investasi global. Sistem moneter internasional pun kini beranjak dari sistem international single currency ke international multi currency.

 

Menuju Multipolaritas

Apa yang dijelaskan Bank Dunia memang sudah terlihat gejalanya. Gejala terjadinya multipolaritas tersebut semakin jelas, ketika kini Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa sedang mengalami krisis. Mari kita lihat beberapa fenomena multipolaritas berikut. Pertama, bila pada era 1994-1998, negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi (di atas 6%) banyak dihuni negara-negara maju , pada era 2004-2008 telah banyak negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kini, distribusi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah semakin merata.

Kedua, kini peran perusahaan multinasional emerging market dalam percaturan global semakin besar. Perusahaan multinasional emerging market, tidak hanya besar karena kiprahnya di emerging market, tetapi juga telah menjadi pemain penting di negara-negara maju. Kini, banyak perusahaan multinasional China yang berkibar di AS dan Eropa. Kini, AS bahkan khawatir dengan eksistensi perusahaan multinasional China, karena defisit neraca perdagangannya dengan China yang membesar.

Semakin meningkatnya peran perusahaan multinasional emerging market juga ditunjukkan tingginya perjanjian merger dan akuisisi (M&A) yang mereka lakukan. Laporan Bank Dunia menunjukkan, bila pada 1997, transaksi M&A antar negara emerging market baru mencapai US$27 miliar, pada 2010 telah mencapai US$250 milyar. Bila pada 2000, pangsa utang (bonds, loans) perusahaan asal emerging market baru sekitar 2,5% dengan nilai sekitar US$123 milyar, pada 2010 pangsanya telah mencapai sekitar 7% dengan nilai sekitar US$461 milyar.

Reputasi perusahaan multinasional asal emerging market juga semakin baik. Hal ini, terlihat dari semakin menurunnya biaya utang perusahaan multinasional emerging market yang harus dikeluarkan ketika menerbitkan bonds. Bila pada 2009, kupon yang dibayarkan atas obligasi yang dikeluarkan perusahaan multinasional emerging market sekitar 345 basis poin di atas benchmarks (biasanya US Treasury Bond) untuk perusahaan dengan peringkat Investment Grade dan sekitar 650 basis poin untuk perusahaan dengan peringkat Non-Investment Grade, kini per April 2011 turun dratis menjadi sekitar 224 basis poin (untuk Investment Grade) dan sekitar 550 basis poin (untuk Non-Investment Grade).

Ketiga, sistem moneter internasional, kini juga sudah semakin mengarah terbentuknya sistem multi mata uang. Kini, kita menyaksikan Dollar AS tidak lagi mendominasi sebagai mata uang utama di dunia, seiring dengan hadirnya Euro dan Renminbi. Sebagai ilustrasi, bila pada 2009, penggunaan Renminbi kurang dari 0,5%, pada 2010 sudah mencapai 5,1% dalam transaksi perdagangan global. Dalam transaksi di pasar keuangan, penggunaan Renminbi di luar China juga semakin meningkat. Pada kuartal II 2011, penggunaan Renminbi dalam penerbitan bond di pasar global telah mencapai sekitar US$40 milyar.

Terlihat jelas bahwa multipolaritas global kini semakin nyata, seiring semakin menguatnya peran emerging market. Meski begitu, perkembangan emerging market ini sejatinya masih terkendala, karena beberapa hal. Pertama, emerging market belum memiliki mata uang yang dapat digunakan secara internasional untuk akumulasi cadangan (reserves), invoicing, atau jangkar pertukaran mata uang. Kedua, emerging market masih terekspos kesenjangan mata uang, baik di antara negara emerging market maupun dengan negara-negara maju. Diperkirakan, bila kendala-kendala ini dapat diatasi, misalnya dengan membentuk satu mata uang emerging market yang digunakan secara internasional (seperti Euro), pertumbuhan ekonomi emerging market dapat lebih cepat lagi.

 

Posisi Indonesia

Lalu, dimana posisi Indonesia dalam arus multipolaritas global tersebut? Apakah Indonesia telah dan akan menjadi bagian penting dalam pembentukan multipolratitas global? Ataukah, kini sedang menunggu dan melihat (wait and see) seperti apa perubahan geopolitik dan ekonomi global yang akan terjadi dan kemudian ikut pada arus atau blok yang menang?

Pada 2011 ini, Indonesia telah masuk kelas sebagai negara berpendapatan menengah (PDB per kapita US$3.000). Posisi Indonesia dalam tren multipolaritas global juga didukung stabilitas politik domestik yang baik, pengelolaan ekonomi makro dan fiskal yang relatif baik, memiliki potensi ekonomi berupa sumber daya alam melimpah dan kekuatan demografi yang mendukung, serta membaiknya profil Indonesia di dunia internasional, yang ditunjukkan dengan keikutsertaannya dalam G-20.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga konsisten (sekitar 6% per tahun), terutama didukung oleh semakin membaiknya kegiatan investasi. Pada 2025, Indonesia diperkirakan akan memiliki pangsa terhadap pertumbuhan PDB global sekitar 2,81%. China diperkirakan akan menjadi negara dengan pangsa pertumbuhan PDB terbesar di dunia, sekitar 37%. Indonesia juga berpeluang menjadi salah satu emerging market terbesar di dunia. Terlebih, Indonesia memiliki keuntungan demografi, karena struktur usia penduduk Indonesia pada 2025 nanti akan dihuni oleh kelompok penduduk berusia menengah (usia produktif). Diperkirakan, bila negara seperti Brasil, Rusia, India, Indonesia, China, dan Korea Selatan bergabung (BRIICK’s) dapat menyumbang pangsa pertumbuhan PDB global sekitar 50%.

Berdasarkan keunggulan di atas, Indonesia sejatinya memiliki posisi strategis dalam menentukan bentuk multipolaritas global ke depan. Sebagai contoh, sekalipun China saat ini disebut sebagai leader bagi emerging market, namun China memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap Indonesia dalam hal sumber-sumber energi dan pangan. Pada 2025, China diperkirakan akan memiliki posisi demografi yang tidak menguntungkan, karena penduduk usia produktifnya akan semakin mengecil. Pertumbuhan ekonomi China yang saat ini tinggi (rata-rata 9%), sesungguhnya karena China sedang menikmati demographic dividend, seiring dengan kelompok masyarakat menengahnya yang saat ini jumlahnya besar.

Oleh karenanya, sejatinya Indonesia berpotensi menjadi bagian penting untuk ikut menata dan menentukan dalam arus multipolaritas ekonomi global tersebut. Dengan kata lain, Indonesia semestinya memiliki positioning yang baik dalam pembentukan multipolaritas global. Pertanyaannya, apakah Indonesia cukup percaya diri ambil peran itu mulai dari sekarang? Sebuah keputusan yang harus dirumuskan menjadi konsensus nasional.***

 

Sunarsip adalah Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Jakarta. Artikel ini dimuat oleh Koran Tempo, Kamis, 23 Juni 2011.