Outlook Economic & Banking 2009

0
38
09

09

Outlook Economic & Banking 2009: Ekonom Senior The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Djoko Retnadi (kanan) didampingi Ekonom Kepala IEI Sunarsip saat menjelaskan mata rantai krisis keuangan AS dan negara maju terhadap perekonomian Indonesia, saat menjadi pembicara dalam dialog ekonomi di Jakarta, Minggu (16/11). Krisis keuangan global antara lain akan menimbulkan second round effect, yaitu melemahnya produk ekspor Indonesia, karena penurunan daya beli luar negeri. (Sumber: Investor Daily, Senin, 17 November 2008). 

Dalam paparan tersebut dijelaskan bahwa pengaruh dari krisis finansial global yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan global pada tahun 2008 terhadap ekonomi Indonesiasetidaknya dapat terjadi melalui dua channel. Pertama, trade channel yang ditunjukkan dengan menurunnya ekspor akibat harga dan permintaan melemah sehingga dapat menyebabkan neraca perdagangan menurun. Selain itu, produk-produk negara lain yang kehilangan pasar akibat melemahnya permintaan dari AS dan juga negara-negara yang terkena krisis akan menyerbu pasar domestik Indonesia. Beruntung, Indonesia memiliki ketergantungan terhadap ekspor yang relatif masih rendah, sehingga pengaruh krisis ekonomi AS dan global terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan juga relatif kecil.

Kedua, financial acccount channel. Krisis AS dan global akan dapat menyebabkan capital flows turun terutama portfolio investment, sementara Indonesia belum menjadi tempat yang attraktif bagi FDI.Pasar keuangan Indonesia akan berkompetisi dengan negara maju untuk memperebutkan kapital dan likuiditas. . Jika kepercayaan tidak terpelihara maka rupiah dan pasar modal menjadi tidak terkendali.

Namun demikian, karena Indonesia memiliki kinerja ekonomi, terutama pertumbuhan ekonomi yang cukup solid, diperkirakan Indonesia akan menjadi sasaran investasi portofolio yang cukup atraktif. Terlebih lagi, instrumen investasi yang ditawarkan oleh emiten (pemerintah dan swasta) di Indonesia memiliki yield yang relatif lebih tinggi di bandingkan dengan negara lain.

Sementara itu, dari sisi perbankan, dapat dijelaskan bahwa kondisi fundamental perbankan pada tahun 2008 yang kuat merupakan kondisi yang favourable bagi perbankan untuk menata portofolio asetnya untuk lebih fokus pada pemberian kredit dan mengurangi eksposur yang berisiko terhadap gejolak pasar.

Sejak tahun 2007, pertumbuhan kredit untuk UMKM semakin tertinggal dari kredit korporasi. Mengingat potensi jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekitar 49 juta unit usaha, dan baru sekitar 20% saja yang memperoleh kredit bank, maka fokus ekspansi kredit perbankan ke depan seyogianya diarahkan untuk UMKM. Sementara itu, pembiayaan korporasi lebih diarahkan untuk infrastruktur, energi (listrik dan sebagainya), dan berbagai sarana penunjang kesinambungan ekonomi domestik.

Walaupun likuiditas perbankan secara umum memadai (kecuali untuk valas), namun distribusi antarbank sangat tidak merata. Mengingat sampai saat ini masih terdapat beberapa bank kecil (BSNND dan bank campuran), maka diperlukan adanya penjaminan untuk fasilitas pasar uang antarbank untuk menjamin mekanisme pasar uang antarbank dapat berjalan dengan baik. Oleh karenanya, tanpa adanya jaminan dari lembaga penjamin simpanan (LPS), dikhawatirkan akan terjadi insolvent dari bank kecil yang dampak psikologisnya akan menimbulan domino effect kepada bank yang lebih besar (herd behaviour).