Peringkat Layak Investasi dan Krisis Eropa

0
35

Pada 15 Desember lalu, Fitch menaikan peringkat utang (sovereign) Indonesia untuk foreign currency long-term senior debt pada BBB- dengan outlook stable dari peringkat sebelumnya (24 Februari 2011), yang berada di level BB+/Positive. Fitch menyatakan, keputusan menaikkan peringkat utang ini didasarkan pada peningkatan kinerja perekonomian, likuiditas eksternal yang lebih kuat, rasio utang pemerintah (public debt) yang rendah dengan tren menurun, serta kebijakan makro yang berhati-hati. Fitch memang menyoroti kelemahan struktural seperti pendapatan perkapita dan penerimaan fiskal yang rendah, pasar keuangan domestik yang dangkal, dan permasalahan di bidang kualitas infrastruktur dan pemberantasan korupsi. Namun, faktor-faktor tersebut tidak menjadi penghalang bagi kenaikan peringkat tersebut.

Di tengah jatuhnya kepercayaan   pasar terhadap sejumlah Eropa dan Amerika Serikat (AS), seperti ditunjukkan dengan turunnya peringkat utang mereka, kenaikan peringkat utang ini jelas memiliki arti tersendiri. Dalam jangka pendek, kenaikan peringkat utang ini sejatinya tidak berdampak signifikan bagi perekonomian Indonesia. Kondisi perekonomian kita ke depan tampaknya masih akan dipengaruhi oleh perkembangan krisis di Eropa dan AS. Perlu diketahui, krisis Eropa ini telah memberikan pengaruh bagi perekonomian kita. Dalam beberapa bulan terakhir ini, Rupiah mengalami tekanan. Cadangan devisa kita juga mengalami penurunan signifikan, baik karena capital outflow maupun untuk stabilisasi nilai tukar. Pada 7 Desember 2011, cadangan devisa  turun menjadi US$111 miliar dari posisi US$113,96 milyar pada Oktober 2011. Dalam 3 bulan terakhir ini, cadangan devisa menurun sekitar US$13,5 milyar.

Dari jalur perdagangan, krisis Eropa juga telah memperlihatkan pengaruh negatifnya. Ekspor pada Oktober lalu memperlihatkan penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar -4,21% (month to month/mom), sedangkan impor mengalami kenaikan sebesar 3,18% (mom). Kinerja ekspor impor ini menyebabkan surplus perdagangan mengalami penurunan signifikan menjadi USD1,15 milyar dari USD2,37 milyar pada September 2011.

Namun, dalam jangka panjang, kenaikan peringkat utang ini akan memberikan dampak positif bagi Indonesia. Pada 2012, pemerintah akan melakukan penerbitan surat berharga negara (SBN), baik di pasar domestik maupun pasar global untuk membiayai defisit APBN. Pada 2012, pemerintah merencanakan membiayai defisit APBN melalui utang sebesar Rp135 trilyun (netto), dimana sekitar Rp134,6 trilyun akan dipenuhi melalui penerbitan SBN, baik yang diterbitkan di pasar domestik maupun global. Dengan naiknya peringkat utang ini, cost of fund utang dan risiko kredit pemerintah akan semakin rendah.

Hanya saja, kenaikan peringkat utang ini diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan cost of fund, yang tercermin dari yield atau imbal hasil dari penerbitan SBN. Ini mengingat, sebelum investment grade, para investor telah menganggap Indonesia sebagai layak investasi, sehingga credit default swap (CDS) dan yield dari obligasi global (global bond) Indonesia sudah masuk peer group investment grade. Sebagai catatan, per 15 Desember 2011, CDS global bond Indonesia untuk tenor 10 tahun berada di level 264,89. Posisi ini jauh lebih rendah dari level tertinggi yang pernah dicapai yaitu 456,22 per 4 Oktober 2011.

Posisi investment grade ini diperkirakan juga hanya akan berimbas signifikan terhadap pasar obligasi pemerintah yang berdenominasi Dollar, bukan dalam bentuk Rupiah. Sementara itu, yield diperkirakan tidak akan menurun secara kuat terhadap global bond, karena pasar telah menganggap harga global bond Indonesia telah berada di posisi selayaknya (price in) obligasi yang memperoleh investment grade.

Dampak positif jangka panjang dari status investment grade ini adalah masuknya investasi langsung (foreign direct investment) ke sektor riil. Posisi ini juga membuka peluang bagi lembaga-lembaga keuangan pengelola dana jangka panjang (seperti dana pensiun) asing berburu surat berharga di Indonesia untuk tujuan investasi jangka panjang. Negara maju seperti AS, dimana dana pensiunnya memegang peran besar dalam sistem keuangan di negaranya, umumnya regulator sulit memberikan ijin bagi dana pensiunnya untuk menempatkan dananya ke pasar yang belum investment grade. Nah, status investment grade Indonesia ini membuka kemungkinan bagi pengelola dana jangka panjang asing masuk.

Peningkatan peringkat utang ini biasanya juga akan mendorong kenaikan peringkat utang korporasi. Positifnya, ketika korporasi menerbitkan obligasi, yield bisa lebih murah. Peningkatan peringkat utang ini, juga berpotensi akan dimanfaatkan perbankan untuk menerbitkan obligasi, baik untuk penguatan modal (sub debt). Kondisi ini tentunya berpotensi menurunkan cost of fund perbankan, yang nantinya berpotensi menurunkan suku bunga kredit. Lembaga pembiayaan pun diperkirakan akan meramaikan pasar penerbitan obligasi. Ujung semua ini adalah peningkatan skala ekonomi yang lebih besar.

Tentunya, optimisme akibat status investment grade ini, tidak mengurangi kewaspadaan kita dalam menyikapi perkembangan eksternal terkini, khususnya akibat belum menentunya penyelesaian krisis Eropa dan AS. Faktanya, sekalipun relatif kecil, krisis Eropa telah memberikan pengaruh negatif bagi Indonesia. Relatif kecilnya pengaruh krisis Eropa karena secara langsung eksposur dari sistem perbankan di Zona Eropa memang rendah, yaitu hanya sekitar 4-5% dari tingkat PDB Indonesia. Namun, secara tidak langsung, krisis Eropa ini tetap cukup signifikan, mengingat negara-negara counter party utama Indonesia (misalnya, China) telah ikut terkena dampak krisis Eropa. Satu hal yang akan terus positif untuk Indonesia adalah kuatnya tingkat konsumsi domestik di Indonesia.

Indonesia memang akan memperoleh manfaat dari peringkat investment grade ini. Namun, risiko akibat krisis Eropa dan AS tetap berpotensi “menganggu” masa-masa menikmati keuntungan akibat peningkatan peringkat utang ini. Penulis melihat bahwa meski tidak seburuk tahun 2008/2009, di tahun 2012 tetap menunjukan adanya resiko melambatnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karenanya, tetap menjadi penting bagi kita untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko untuk menghadapi kemungkinan situasi ekonomi yang tidak menguntungkan di tahun 2012.***

*) Sunarsip adalah Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI). Analisis ini dimuat harian Seputar Indonesia (SINDO), Senin, 2 Januari 2012