Rupiah, Fundamental Ekonomi, dan Faktor Eksternal*

0
40

Kurs Rupiah dalam beberapa pekan ini mengalami tekanan. Puncaknya, sejak Senin (15 Juli) lalu, kurs Rupiah tembus Rp10.000 per Dollar Amerika Serikat/AS (USD), yang oleh sebagian pihak disebut sebagai level psikologis. Rupiah yang tembus level Rp10.000 per USD, sesungguhnya tidak selalu menggambarkan kondisi fundamental ekonomi yang buruk. Sebagai negara yang menganut rezim devisa bebas, Rupiah memang berpotensi berfluktuasi meski fundamental ekonomi masih positif.

Namun, kinerja fundamental ekonomi umumnya menggambarkan kondisi yang telah lewat (post), sedangkan ketika melakukan penempatan (placement) atau penarikan (run) dana, pelaku di pasar uang juga mendasarkan pada kondisi eksternal yang real time. Jadi, tidak mudah memang untuk men-judge bahwa pelemahan Rupiah ini adalah karena fundamental ekonomi yang buruk.

Fundamental Vs Faktor Eksternal

Tren pelemahan Rupiah sesungguhnya dapat dideteksi sejak awal 2013, terutama dari kinerja neraca perdagangan. Neraca perdagangan selama 2012 mengalami defisit USD1,63 miliar dan hingga Mei 2013 telah mencapai USD2,53 miliar. Defisit ini terutama berasal dari defisit perdagangan migas. Defisit neraca perdagangan ini pulalah yang menekan posisi kesehatan fiskal kita. Dapat dikatakan bahwa tren pelemahan Rupiah tersebut adalah karena fundamental ekonomi kita yang melemah. Namun, dalam situasi tersebut, ternyata Rupiah bisa dijaga berada di bawah Rp10.000 per USD.

Pemerintah lalu mengeluarkan “kebijakan koreksi” untuk memperbaiki fundamental ekonomi kita tersebut melalui kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Melalui kenaikan harga BBM bersubsidi diharapkan impor minyak dan BBM dapat dikurangi sehingga defisit fiskal dan perdagangan dapat dikurangi. Sayangnya, ketika kebijakan kenaikan harga BBM dieksekusi, muncul sentimen negatif yang memperlemah Rupiah.

Pada 19 Juni lalu, Gubernur bank sentral AS (the Fed) Bernanke mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Bernanke mengatakan the Fed kemungkinan akan mengurangi skala kebijakan quantitative easing (QE) jilid III, yang telah diberlakukan sejak September 2012. Pernyataan Bernanke ini dinilai bertolak belakang dengan berbagai pernyataan sebelumnya yang cukup dovish (pro moneter longgar). Pernyataan Bernanke tersebut memunculkan spekulasi terkait kemungkinan the Fed akan mengurangi stimulus moneternya.

Bila the Fed mengurangi skala QE III, diperkirakan suku bunga acuan the Fed akan meningkat. Kondisi ini diperkirakan akan menarik masuk USD ke AS yang tadinya ditempatkan di emerging markets. Situasi inilah yang mendorong terjadinya over-react dan berakibat penguatan USD dan pelemahan mata uang emerging markets (termasuk Indonesia). Rupiah yang diharapkan menguat pasca kenaikan harga BBM, justru melemah seperti kita lihat saat ini.

Sayangnya, Bank Indonesia (BI) juga over-react dalam menyikapi pelemahan Rupiah ini. Kebijakan menaikan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 75 basis poin dalam dua bulan terakhir sangat mengejutkan pasar. BI dinilai menjadi sangat hawkish (pro moneter ketat) yang melebihi ekspektasi pasar.

Fundamental ekonomi kita sesungguhnya masih memperlihatkan kinerja yang baik. Namun, seperti saya sebutkan di atas, keputusan pelaku pasar untuk memegang atau melepas USD tidak hanya melihat kinerja fundamental yang bersifat post tersebut. Pelaku pasar juga memperhatikan dinamika eksternal dan internal yang real time. Dan kinerja eksternal tampaknya akan masih menjadi ganjalan bagi penguatan Rupiah.

Pemerintah AS telah mengumumkan laju pertumbuhan ekonomi kuartal I 2013 sebesar 1,8%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,4%. Perbaikan tingkat pengangguran di AS juga masih semu. Pada Juni lalu, pemerintah AS menyebutkan bahwa selama 2013 adanya peningkatan pekerja yang terserap dalam lapangan kerja sebanyak 753.000. Namun, dari jumlah tersebut ternyata tidak kurang dari 557.000 hanya sebagai pekerja part time. Data tersebut juga menunjukkan bahwa pekerja full time posisinya per Juni 2013 menurun sekitar 240.000, sementara pekerja part time-nya meningkat sekitar 360.000.

Kinerja perekonomian AS yang tidak terlalu mengesankan ini, tentunya akan mempengaruhi perekonomian negara lain termasuk Indonesia. Ekspor Indonesia ke AS diperkirakan tetap melambat. Perlu dicatat, pangsa ekspor non migas kita ke AS selama 2013 ini mencapai sekitar 10%.

Keberhasilan AS dalam memproduksi shale gas juga turut mempengaruhi peta perdagangan global. Kini, akibat keberhasilan AS dalam mengembangkan shale gas, banyak perusahaan migas dunia terpaksa menunda investasi mereka di sektor gas LNG. Sebagai misal, saat ini pengerjaan proyek-proyek LNG senilai USD160 miliar di Australia yang diinvestasikan oleh perusahaan minyak internasional, termasuk Exxon dan Chevron, terpaksa ditunda. Penundaan ini disebabkan karena bisnis LNG menjadi lebih berisiko seiring dengan proyeksi melemahnya harga gas LNG akibat keberhasilan produksi shale gas AS tersebut (WSJ, 15 Juli 2013).

Neraca perdagangan migas kita memang defisit. Namun, neraca perdagangan migas tersebut sesungguhnya masih tertolong oleh sektor gas yang masih surplus. Keberhasilan shale gas di AS diperkirakan akan menekan harga gas LNG dan berpotensi menurunkan kinerja neraca perdagangan migas kita. Tidak hanya harga gas yang melemah, harga batubara juga ikut melemah karena shale gas dipergunakan sebagai substitusi batubara. Terlebih lagi, AS dan dunia kini semakin mendorong penggunaan energi ramah lingkungan. Karena beralih ke gas konvensional terlalu mahal, maka shale gas menjadi pilihan yang menarik bagi industri.

Perkembangan ekonomi China juga mempengaruhi kinerja neraca perdagangan kita. Pemerintah China baru saja mengumumkan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2013 sebesar 7,5%, yang berarti terendah sejak tahun 1990. China adalah negara tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan pangsa sebesar 13,6% (2013). Ekspor Indonesia ke China terutama berupa komoditas, seperti palm oil dan batubara. Rendahnya pertumbuhan ekonomi China tersebut, tentunya berpotensi menurunkan ekspor Indonesia ke China.

Dari analisis di atas, saya ingin mengatakan bahwa Rupiah masih akan menghadapi ujian berat di masa mendatang. Karena faktor eksternal akan lebih banyak memainkan peran dalam pergerakan kurs Rupiah, saya mengusulkan sebaiknya BI jangan terlalu “mengobral” dalam penggunaan instrumen moneternya. BI jangan larut oleh tuntutan pelaku pasar uang yang memang berharap adanya selisih imbal hasil yang positif dari investasi mereka pada instrumen moneter yang diperdagangkan BI.

Saya berpendapat, tidak ada salahnya bila BI tetap menjaga agar BI Rate tetap rendah, sekalipun berimplikasi imbal hasil yang negatif pada penempatan instrumen moneter BI, seperti yang terjadi pada 2008. Dengan BI Rate yang tetap rendah, diharapkan sektor domestik (konsumsi dan investasi) tetap tumbuh untuk mengkompensasi pelemahan kinerja ekspor. Dan nantinya, bila sektor domestik tetap terjaga, pada akhirnya ekspor akan meningkat. Pastinya, ini memang membutuhkan kesabaran untuk tidak terlalu panik dalam mencermati setiap perkembangan eksternal.***

*)Tulisan ini telah dimuat oleh Bisnis Indonesia, Senin , 23 Juli 2013.