Sepak Bola

0
31

Entah kenapa, saya tiba-tiba ingin menuliskan coretan kecil tentang sepak bola. Tetapi yakinlah bahwa coretan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisruh yang terjadi dalam tubuh persepakbolaan nasional kita.

Saya yakin sebagian besar di negeri ini pasti kenal dengan sepak bola. Dan saya masih yakin bahwa sepak bola adalah olah raga yang paling banyak penggemarnya. Makanya, tidak mengherankan bila sepak bola telah menjadi industri yang sangat menguntungkan bagi insan yang terlibat di dalamnya.

Sepak bola sesungguhnya tidak sekedar permainan untuk ditonton dan lantas dikomersialkan. Kalau kita cermati, sepak bola sejatinya melibatkan emosi kejiwaan dalam setiap diri pemain, pelatih, ofisial, dan penonton. Oleh karenanya, untuk dapat memenangkan suatu pertandingan sepak bola, tentu tidak bisa hanya mengandalkan teknik skill tinggi. Dibutuhkan juga emosi kejiwaan dari setiap pemain, pelatih, ofisial, dan penonton sebagai kekuatan ke-12 selain 11 pemain di lapangan. Dan tim sepak bola yang sukses, biasanya adalah tim yang mampu menggabungkan seluruh kekuatan tersebut: skill dan emosi kejiwaan.

Lihatlah Manchester United, klub Inggris yang telah banyak mengantongi gelar Liga Primer Inggris dan Liga Eropa. Sekalipun ditinggal pemain bintangnya, seperti Cristiano Ronaldo (CR7), tetap saja MU menjadi kekuatan tim yang ditakuti lawan-lawannya. Kenapa? Kolektibilitas dan kebersamaan yang terbangun dalam tim, seolah-olah siapa saja pemain yang dipasang Sir Alex Fergusson sebagai “starting eleven” akan mampu menjadi kekuatan tim yang efektif untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Begitulah seharusnya kita dalam aktivitas keseharian. Kompetensi dan skill individual jelas harus dibangun. Tetapi jangan lupa, kekuatan tim yang terorganisir secara baik, baik hal hard competency dan soft competency jauh lebih dibutuhkan untuk memenangkan kompetisi. Dan untuk membangun kekuatan tim yang efektif, layaknya seperti klub Manchester United, tentu dibutuhkan sosok figur pemimpin yang mampu menggabungkan kemampuan individual menjadi kekuatan tim. Dalam konteks bernegara: kita tentu membutuhkan seorang Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, dan Kepala Desa/Lurah yang dihormati, ditaati, dan menjadi panutan bagi semuanya.

Sudahkah kita bermain sepak bola hari ini? Ayo bermain, dan mari kita temukan nilai-nilai luhur dalam permainan sepak bola tersebut.***