Transformasi BPD

0
35

Pelaku industri perbankan kini harus memperhitungkan kiprah dari Bank Pembangunan Daerah (BPD). Bila dulu BPD ditempatkan sebagai bank kelas dua, maka anggapan ini harus dibuang jauh-jauh. Ini tentunya tidak mengada-ada. Per Oktober 2010 ini, BPD seluruh Indonesia memiliki aset Rp247,6 trilyun, dengan pangsa pasar aset 8,85%. Kumulatif aset BPD ini menduduki peringkat keempat, setelah Mandiri, BRI, dan BCA. Bisa dibayangkan, dengan kekuatan aset sebesar itu, BPD berpotensi menjadi pelaku perbankan yang kuat. Terlebih lagi, diantara BPD sesungguhnya hampir tidak ada persaingan. Persaingan BPD bukanlah dengan sesama BPD, tetapi dengan bank-bank lainnya.

Tentu ada alasannya, kenapa saya katakan pelaku industri perbankan kini harus memperhitungkan kiprah BPD? BPD, selain memiliki kekuatan konvensional yang melekat sejak dulu, BPD kini juga telah melakukan transformasi diri. Mau bukti? Mari kita lihat fakta-fakta berikut ini. Pertama, BPD adalah kelompok bank yang memiliki komposisi dana (DPK) yang paling murah. Ini mengingat, lebih dari 60%, dana BPD berbentuk giro dan tabungan. Kekuatan dana ini terutama ditopang oleh dana-dana murah dari pemerintah daerah dan nasabah masyarakat setempat yang loyal. Jelas ini merupakan kekuatan tersendiri, yang tidak dimiliki oleh bank-bank lainnya.

Kedua, eksistensi BPD kini tidak hanya diakui sebagai bank lokal, tetapi juga telah ada BPD yang menunjukan eksistensinya secara nasional. Bank Jabar Banten (Bank bjb) adalah contoh sebuah BPD yang berhasil menunjukkan eksistensinya, tidak hanya sebagai bank daerah, tetapi juga bank dengan kiprah nasional. Setelah cukup nyaman dengan pasar konvensionalnya, Bank bjb mulai menempatkan diri sejajar dengan bank lainnya. Semua itu merupakan wujud dari proses transformasi yang dijalankan Bank bjb. Suksesnya langkah “go public” merupakan cerminan dari berjalannya proses transformasi internal Bank bjb. Memang masih terlalu dini menyatakan secara sahih kesuksesan Bank bjb tersebut. Namun, setidaknya dalam tingkatan saat ini, Bank bjb telah menunjukkan kepada industri bahwa kiprah BPD memang harus diperhitungkan.

Sejalan dengan transformasi internal yang dilakukan oleh masing-masing BPD, seperti tercermin dari transformasi yang diterapkan Bank bjb tersebut, BPD secara keseluruhan juga tengah bersiap menyongsong era transformasi tersebut. Sebagai bukti, pada 21 Desember 2010 lalu, BPD seluruh Indonesia telah mencanangkan apa yang mereka sebut cita-cita menjadi “BPD Regional Champion” atau BRC. Banyak hal yang dicanangkan dalam BRC tersebut sebagai bagian dari program transformasi BPD. Kata kunci dari BRC adalah keinginan bersama dari seluruh BPD untuk menjadikan dirinya sebagai “raja” di daerahnya masing-masing.

Tentu banyak hal yang dipersyaratkan untuk menjadi “raja” di daerahnya masing-masing. Mulai dari persyaratan modal, keunggulan SDM, infrastruktur teknologi informasi, jaringan, dan pemasaran. Namun, yang dapat ditangkap dari pencanangan program BRC ini adalah adanya semangat yang kuat dari masing-masing BPD untuk menjadi pemain yang diperhitungkan dalam industri perbankan. Bisa dibayangkan, jika komitmen dalam BRC ini dapat diimplementasikan secara konsisten, seperti yang saya sebut di awal, tentu kiprah BPD ini ke depan harus diperhitungkan.

Sesungguhnya, jika stakeholders BPD menyadari kekuatan dirinya, semestinya sejak lama BPD akan menjadi pemain yang diperhitungkan. Namun, akibat terlalu lama berada dalam comfort zone, BPD terlena untuk melakukan transformasi. Akibatnya, kini pangsa pasar BPD cenderung menurun, karena masyarakat kini semakin cerdas dalam memilih bank.

Namun, BPD tetaplah bank yang memiliki kelebihan. Terutama sekali, BPD memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki bank-bank lain. Tinggal persoalannya, bagaimana mentransformasikan keunggulan komparatif itu menjadi keunggulan kompetitif. BPD selama ini identik sebagai pemegang kas daerah. Banyak yang salah menafsirkan identitas atau kekhasan BPD sebagai pemegang kas daerah ini. Banyak yang mentafsirkan bahwa posisi ini telah menempatkan image BPD sebagai bank kelas bawah. Padahal, justru identitas inilah yang menjadi salah satu keunggulan komparatif BPD. Dan faktanya, justru keunggulan inilah yang akhirnya menopang kekuatan sumber dana BPD.

Tentunya, keunggulan komparatif akan ada batas puncaknya dan selanjutnya menurun, jika BPD tidak melakukan upaya-upaya meningkatkan keunggulan kompetitifnya. Situasi ini akan terjadi sesuai dengan siklus produk (product life cycle), dimana kalau tidak ada inovasi baru, dengan sendirinya produk tersebut akan ditinggalkan nasabahnya. Oleh karenanya, untuk mempertahankan keunggulan komparatifnya, secara simultan BPD juga harus meningkatkan keunggulan kompetitifnya. Caranya adalah dengan meningkatkan efisiensi, kualitas pelayanan dan jaringan, dan menciptakan produk-produk perbankan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Jika hal-hal ini dapat dilakukan BPD, maka keunggulan komparatif yang dimiliki BPD saat ini akan dapat dipertahankan, atau memiliki life cycle yang lebih lama, bahkan bisa menggaet pangsa pasar atau nasabah baru.

Kata kuncinya adalah transformasi dan BPD telah memulai langkah ini. Kini, BPD telah menjalin sinergi antar BPD dalam sejumlah layanan transaksi. Sejumlah BPD kini telah menjajaki masuk bursa pada tahun 2011, mengikuti jejak Bank bjb. Secara kolektif, melalui BRC, BPD juga telah mencanangkan komitmen transformasi secara bersama-sama dengan indikator yang disepakati bersama. Kesepakatan ini tentunya memiliki konsekuensi berupa komitmen untuk bersinergi secara lebih inten dalam berbagai hal, tidak hanya aktivitas pembiayaan, pendanaan, pemasaran, tetapi juga jasa-jasa pendukung.

Tahun 2011 adalah momentum untuk menunjukkan komitmen ini. Jika BPD konsisten melakukan transformasi, tahun 2011 harus sudah kelihatan langkah-langkah nyatanya. Sebab, bila tidak, kita khawatir bahwa komitmen transformasi ini akan hilang begitu saja. Dan kita khawatir, BPD akan kembali menjadi pemain yang kurang diperhitungkan.***

Dimuat Infobank, Edisi Januari 2011