Wawancara: “Perlu Mengubah Citra Menakutkan Uji Kompetensi”

0
44
10

10Tidak dapat disangkal, Uji Kompentensi Manajemen Risiko yang dilaksanakan oleh Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR) sering menjadi momok yang menakutkan. Ke depan rasa takut ini perlu dihilangkan dengan lebih giat melakukan sosialisasi. Itulah intisari dari perbincangan dengan Sunarsip, Komisaris Bank BRI Syariah usai mengikuti Uji Kompetensi Manajemen Risiko Level IV beberapa waktu lalu.

(BBSMR): Ada sebagian kalangan yang mengaku takut mengikuti Uji Kompetensi Manajemen Risiko karena dinilai susah, komentar Anda?

Harus diakui bahwa image Uji Kompetensi saat ini memang terkesan ditakuti. Tetapi dari pengalaman saya sampai level IV ini sebenarnya soal-soal yang diujikan dalam Uji Kompetensi relatif sedanglah, tidak terlalu susah. Saya mengikuti Uji Kompetensi ini sejak Maret 2010. Dan hampir tiap bulan saya ikut dan Alhamdulilah saya lulus terus hingga sekarang di level IV. Kalau selama ini ada asumsi berupa ketakutan menghadapi ujian BSMR, menurut saya tidak usah takutlah dan image ini yang perlu diubah oleh BSMR.

(BBSMR): Ada masukan untuk BSMR secara khusus untuk peningkatan mutu dari kegiatan Uji Kompetensi ini?

Mungkin begini, selama ini “quote on quote” ada sebagian orang takut mengikuti Uji Kompetensi Manajemen Risiko yang diselenggarakan BSMR karena yang terdengar di luar dikatakan bahwa soal yang diujikan dalam Uji Kompetensi itu susah dan terlalu kuat di hafalan. Karena image-nya seperti itu, maka menurut saya terlebih dahulu kesan seperti itu yang harus segera dihilangkan oleh BSMR. Sosialisasi harus lebih ditingkatkan lagi sehingga peserta nantinya akan semakin banyak.

Sampai saat ini masih ada bank yang tidak menyertakan karyawannya untuk ikut dalam ujian ini karena ketakutan tersebut. Oleh karenanya, kesan itu harus dihilangkan terlebih dahulu.

(BBSMR): Selain kesan bahwa soalnya sulit, hal apa lagi yang harus diperhatikan pihak BSMR?

Memang di level I dan level II karena merupakan level dasar tentunya soal Uji Kompetensi masih lebih banyak merupakan soal hafalan. Dan karena merupakan dasar, terutama ditujukan untuk memberikan pemahaman dasar kepada peserta, saya kira hal itu dapat dimengerti dan kita tak mempermasalahkannya. Karena untuk memberikan pemahaman dasar memang harus banyak hafalannya. Namun demikian, untuk Uji Kompetensi level IV, menurut saya kasusnya kita harapkan lebih menggambarkan kondisi riil perbankan saat ini atau minimal mendekati kesamaan.

(BBSMR): Jadi kasus yang diberikan harus seperti apa?

Menurut saya begini, belajar dari case-case seperti yang disajikan dalam Uji Kompetensi Level IV memang penting. Tetapi, kita berharap bahwa case yang disajikan hendaknya case faktual sehingga peserta bisa melihat bahwa di sana ada kesalahan atau tidak. Kalau saya lihat di cases yang sekarang diujikan di Uji Kompetensi Level IV, seolah soal tersebut ingin menunjukkan kepada peserta letak kesalahan-kesalahan yang ada, sehingga peserta tinggal diminta mencari jalan keluarnya. Padahal penting juga di sana adalah peserta belajar untuk melihat dan menemukan sendiri letak kesalahan dalam sebuah case. Setelah menemukan kesalahan baru ditentukan jalan keluarnya. Yang ada sekarang sama dengan memberi kemudahan kepada peserta. Jadi yang penting sebenarnya adalah bagaimana orang tahu bahwa itu salah dan kemudian baru dicarikan jalan keluarnya atau penyelesaiannya. Yang sekarang ini sudah diketahui bahwa ini salah dan tinggal dicarikan jalan keluarnya.

(BBSMR): Anda telah mengikuti Uji Kompetensi Manajemen Risiko hingga level IV, bagaimana kesan Anda secara umum?

Dari pengalaman saya selama ini, biasa saja. Relatif mudah dan menurut saya jauh dari image menakutkan yang selama ini beredar di kalangan calon peserta. Karena sebenarnya soal-soal yang ada di ujian tersebut sudah ada di buku-buku, baik yang diterbitkan oleh BSMR maupun buku-buku yang bisa kita dapatkan di toko-toko buku. Jadi, bagi saya sendiri sejauh ini, Alhamdulillah saya tidak banyak mengalami kesulitan.

(BBSMR): Dari sisi materi ujian, dari pengalaman Anda apakah sudah aplikatif?

Dari pengalaman saya sampai level III masih terlalu banyak teorinya. Jadi mungkin yang aplikatif di level IV dan V. Namun demikian, karena teori tersebut dikembangkan dari best practices, tentunya tilmu tersebut akan sangat bermanfaat untuk diterapkan dalam praktek sehari-hari di dunia perbankan.

Tetapi menurut saya, seperti yang saya sebutkan di atas, soal-soal yang disajikan dalam Uji Kompetensi Level IV, kesannya lebih ingin membantu peserta. Ini mengingat, dengan format seperti itu, peserta sebenarnya dapat dengan lebih mudah untuk membaca arah soal. Atau dengan kata lain, pesereta akan lebih mudah memahami soalnya sehingga mudah untuk menjawabnya: oh kira-kira jawabannya ke sini dan seterusnya. Namun demikian, soal dengan format seperti ini sebenarnya juga bagus untuk memberikan pemahaman kepada peserta dalam melihat dan menilai kasus-kasus yang ada di perbankan. Walau sebenarnya kasus-kasus yang diangkat dalam Uji Kompetensi agak ekstrim, karena mungkin praktek di perbankan tidak seperti itu.

(BBSMR): Kalau demikian seharusnya soal Uji Kompetensi ini seperti apa?

Kalau ingin lebih meningkatkan bobot ke peserta sehingga tidak kemudian dinilai sedang memberikan “clue” atau kemudahan, kalau bisa kasusnya lebih realistis atau mendekati case yang nyata ada di dunia perbankan. Misalnya, dibedah saja kasus yang terjadi di dunia perbankan saat ini, seperti kasus di bank tertentu meski tidak perlu menyebutkan nama banknya. Lalu tinggal diserahkan ke peserta bagaimana mereka melihat dan menganalisanya.

(BBSMR): Anda sekarang sudah di level IV, akan terus berlanjut ke level V?

Seperti saya katakan tadi saya mengkuti Uji Kompetensi ini hampir setiap bulan, dan sekarang yang keempat. Sebenarnya saya mau ikut lagi sampai level V tetapi tidak bulan Oktober karena batas waktu pendaftaran nanti tanggal 2 Oktober sedangkan saat itu saja belum tahu hasil ujian level IV . Jadi pada bulan November saya akan mengikuti Uji Kompetensi Manajemen Risiko level V.

(BBSMR): Seberapa penting buat Anda mengikuti Uji Kompetensi Manajemen Risiko?

Buat saya sangat penting karena, pertama saya seorang bankir, kemudian saya juga seorang analis. Sertifikasi itu menurut saya merupakan pengakuan untuk kompetensi kita di bidang Manajemen Risiko, jadi itu penting sekali. Sebut saja, siapa tahu saya suatu saat nanti berkiprah di luar negeri, tentunya Sertifikasi ini akan sangat membantu karena Uji Kompetensi ini diakui secara internasional.

(BBSMR): Persiapan yang dilakukan untuk menghadapi Uji Kompetensi ini?

Sebenarnya tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan. Saya kebetulan baca buku saja. Pada level I, saya masih mengikuti kursus internal di Bank BRISyariah. Begitu level II saya lihat kok masih sama soalnya. Nah, di level III dan seterusnya saya sudah tidak lagi mengikuti kursus. Karena dulu pernah ikut program refresing, jadi kita pahamlah arahnya seperti itu.

(BBSMR): Bagaimana Anda melihat Manajemen Risiko ke depan bukan hanya untuk kalangan perbankan tetapi untuk semua sektor?

Manajemen Risiko itu kan sebenarnya wajib. Organisasi tidak akan mampu sustain dan tumbuh kalau tidak mempunyai perangkat Manajemen Risiko yang baik. Jadi semua organisasi harus punya itu dan semua orang di dalamnya harus care dan concern dengan Manajemen Risiko. Jadi bukan hanya di Divisi Risk Management yang concern dan care dengan Manajemen Risiko yang dihadapi perusahaan. Mulai dari Komisaris sampai ke level bawah seluruhnya harus care dengan Manajemen Risiko, tentunya sesuai dengan porsi dan tanggung jawabnya masing-masing. Misalnya kalau di level account officer memang harus paham bagaimana membuat analisa risiko kredit, membuat analisa risiko terhadap proposal yang tawarkan.

(BBSMR): Lalu kalau untuk Anda sebagai Komisaris?

Di level komisaris harus tahu sejauh mana kewenangannya, keterlibatannya dan bagaimana melakukan monitoring, preview dan evaluasi terhadap Manajemen Risiko secara holistik. Jadi menurut saya, ini suatu kewajiban dan semua orang yang ada di bank memang harus care dengan Manajemen Risiko. Kalau ada karyawan yang tidak care dengan Manajemen Risiko, pihak manajemen punya kewajiban untuk membuat karyawannya paham, di sekolahkan kemudian diikutkan kursus­-kursus dan Ujian seperti ini sehingga care-nya itu muncul.***

(Sumber: Buletin BSMR, Edisi Oktober 2010, dengan sejumlah modifikasi redaksional).